Tampilkan postingan dengan label Dunia Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2016

Ujian Perasaan: Ketika Virus Berwarna Merah Jambu Menyapamu

Aktivis mahasiswa juga manusia. Selayaknya manusia, mereka memiliki perasaan dan perasaan ingin memiliki. Sama, tiada bedanya. Yang berbeda hanya penyikapan atas fitrah perasaan yang kadang menggelayut mesra waktu menuju pembaringan tiba.

VMJ a.k.a Virus Merah Jambu adalah bahasan yang paling menarik untuk dibahas ketika waktu 'melingkar' tiba. Setidaknya, sependek pengamatan saya ketika berada dalam lingkaran bersama teman-teman kemudian membahas tema yang mengenainya, maka pembahasan akan lebih ramai dan antusias dari biasanya. Tidak percaya? Coba saja. Tapi, ijin dulu pada teteh/mbak/akang/abang/kakak mentornya, ya. Hehe.

Seperti virus yang dapat menyerang siapa saja, virus ini juga bekerja dengan cara yang sama. Ia bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Tanpa pilih-pilih orangnya tanpa bisa diduga kedatangannya. Mungkin, di dunia ini hanya ada dua manusia yang mampu membuat virus ini meuntal dan tak mampu menginfeksi sama sekali. Merekalah: Sayyidina Ali RA dan Sayyidatina Fatimah RA. Yang mampu menjaga fitrahnya dengan sangat rahasia, hingga setanpun luput tak dapat mengetahuinya, hingga tiba masa Allaah perkenankan mereka untuk merayakan cinta. Masyaa Allaah.

Virus ini merupakan bahaya laten untuk kehidupan aktivis mahasiswa. Betapa tidak, apabila seorang mahasiswa sudah terkena atau bahkan terinfeksi virus ini mereka bisa saja gelap mata. Masa? Iya! Makanya jangan pernah coba-coba memancing kedatangannya, ya. Hehe. Ya, seperti yang kita tahu seorang bijak pernah berkata: "janganlah pernah engkau menasehati orang yang sedang jatuh cinta, karena itu sia-sia saja." Sebenar apapun kebenaran yang kita sampaikan, tidak akan berarti apa-apa untuknya karena hatinya sedang tertutup pada selain orang yang dicintainya, kecuali Allaah memberi kembali cahaya-Nya. Di sinilah, ujian sedang berlangsung pada perasaannya. Ujian perasaan.

Hati-hati, virus ini sangat suka dengan orang-orang yang lalai dari mengingat-Nya atau lebih sering kita kenal dengan sebutan 'futur' yaitu suatu kondisi dimana seseorang sedang dalam kondisi ruhiyah* yang tidak bagus. Virus ini sangat lembut sekali, hingga kedatangannya tidak kita sadari, tahu-tahu ternyata ia sudah menyerang dan menginfeksi. Saat kita tanpa sadari kita mulai mengagumi kebaikan ikhwan A atau akhwat Z dan berharap kelak mendapat mahram sepertinya, misalnya. Perlahan tapi pasti. Jika tidak segera diobati, maka ia bisa saja segera menginfeksi dan menggerogoti pertahanan demi pertahanan dalam diri.

Lalu, bagaimana sebaiknya sikap kita ketika mendapat Ujian Perasaan itu? Ketika Virus berwarna merah jambu itu hadir menyapaku?

Well, berikut adalah tips yang dapat saya sarankan kepada kengkawan sekalian. Tips ini berdasarkan pada pengalaman pribadi, hehe, cerita sahabat, kisah teman, buku-buku yang pernah saya baca dan kajian-kajian yang pernah saya ikuti. Check it out!
1. Jangan banyak menyendiri
Ketika Virus Merah Jambu terasa mulai menyerang pertahanan kita, hindari untuk banyak menyendiri, karena ketika kita sendiri biasanya bayangannya semakin menjadi, semakin menggoda iman. Pun, ketikapun keadaan memaksa kita untuk menyendiri dan bayangannya mulai menghampiri, segera alihkan perhatian, lakukan hal-hal produktif yang dapat menyibukan pikiran maupun fisik kita.

2. Jangan semakin memperparah infeksi virus merah jambu
Sudah fitrahnya ketika perasaan itu hadir menyapa, rasa-rasanya selalu ingin menyebut-menyebut namanya, telinga menjadi lebih peka ketika mendengar orang lain menyebut namanya, ingin selalu mengetahui kabarnya. Iya, kan? Biasanya untuk memenuhi rasa itu kita mulai sering stalking media sosialnya, curi-curi tanya ketika ada 'forum' yang membahas profilnya, googling segala sesuatu tentangnya. Bukan begitu? Nah, ini juga berbahaya, karena apabila hal-hal tersebut dilakukan maka akan semakin memperparah kondisi kita. Yang bisa kita lakukam saat itu juga adalah berhenti. Berhenti. Berhenti.

3. Cek kembali amalan-amalan harian, setidaknya selama sepekan
Ini adalah hal yang sangat penting dan krusial untuk dilakukan. Karena, bagaimanapun amalanmu akan sangat mempengaruhi aktivitasmu, perasaanmu, semangatmu dan bahkan seluruh aspek kehidupanmu. Coba cek kembali bagaimana:

Shalat Wajibmu. Apakah sudah tepat waktu? Apakah sudah khusyuk? Berjamaah atau masih sering ketinggalan kah?
Sebagiamana telah kita semua tahu bahwa amalan pertama yang akan dihisab nanti adalah shalat kita. Sehingga secara implisit kita diberitahukan ketika ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan kita, kita harus menghisab dan mengecek kembali bagaimana shalat kita. So, jagalah shalatmu dan biarkan shalat menjagamu.

Tilawahmu. Apakah sudah rutin? Apakah sudah membaca maknanya juga? Apakah sudah mentadaburinya? Ataukah setiap hari terlewat begitu saja tanpa tilawah?
Mengapa tilawah itu penting? Di antaranya karena di sana (Al-Qur'an) merupakan sumber cahaya sekaligus obat dari segala penyakit. Dengan membacanya segala kegelisahan perasaan kita akan terlenyaplan dan kita juga akan mendapatkan pencerahan. Sebagaimana Allaah berfirman dalam kitab-Nya, yang artinya: "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yairu Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuataan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allaah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain) Dan Allaah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al-Ankabuut: 45).

Kemudian cek juga amalan lainnya seperti shalat sunnah rawatib, dzikir pagi dan petang serta sunnah nafilah lainnya.

4. Perbanyak shalat malam
Shalat di sepertiga malam atau sering disebut Qiyamullail merupakan shalat sunnah yang sangat dianjurkan mengingat banyak sekali manfaat yang akan kita rasakan. Ketika virus merah jambu itu menyerangmu dengan ganas sehingga hatimu sudah tak dapat lagi kamu kendalikan, maka dirikan shalat malam, dan mintalah kepada Pemilik Hati agar 'bolong' yang ada dihatimu itu di'tambal'-Nya, disembuhkan dari sakitnya. Atau, mintalah agar hatimu yang sudah kadung kotor itu agar digantikan-Nya dengan hati yang baru. Hati yang bersih, hati yang baik, sehingga dengan hati itu bersih dan baiklah segala niatan kita, segala perihidup kita, segala perbuatan hidup kita di dunia.

5. Perbanyak Shaum Sunnah
Ketika hati sudah terlanjur terinfeksi, ketika pandangan tak dapat lagi ditundukkan dan pikiran begitu liar berangan. Maka, berpuasalah. Perbanyaklah shaum sunnah. Apakah itu shaum sunnah tiga hari di pertengahan bulan hijriyah (ayyamul bidh), shaum senin-kamis atau bahkan shaum Daud: satu hari berpuasa, satu hari berbuka. Sangat direkomendasikan bagi mereka yang kadung punya rasa, ingin menyalurkan melalui cara yang halal a.k.a menikah belum bisa sementara gejolak semakin menbuncah dada. Sabar dan terus berpuasa, dengan puasa, in syaa Allaah, akan dapat meredam gejolak yang membara.

6. Lakukan 'pengentalan' diri
Ketika diri sudah berusaha sekian rupa untuk tidak terserang virus merah jambu yang lebih parah lagi, sementara kondisi memaksa untuk tetap melakukan interaksi karena kepentingan yang lain. Maka, bersabarlah dan minta tolong pada-Nya agar diri tetap terjaga dan bisa juga dengan melakukan 'pengentalan' diri. Apa itu pengentalan diri? Adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk selalu terkoneksi dengan Rabb-Nya. Ijinkan saya memberikan sebuah kisah yang saya dapatkan dari teman saya. Terkisah ada seorang aktivis mahasiswa yang luar biasa menjaga diri, kemampuannya dalam memimpin membuatnya terpilih sebagai pimpinan tertinggi organisasi. Selayaknya pimpinan yang mesti ada yang mengagumi, ia pun sama, banyak perempuan yang nge-fans padanya, mana ia ganteng pula. Alhamdulillahnya, ia pandai menjaga dirinya. Tak ada yang ia biarkan memasuki hatinya, hatinya ia jaga untuk seseoranh yang Allaah takdirkan untuk menjaga mahramnya. Namun begitulah, godaan semakin hari semakin menjadi. Hingga ia merasa takut sekali hatinya akan ternodai. Sambil memohon pertolongan ia shalat sunnah dhuha di sekretariat organisasi pimpinannya, dan ia merasa tenang setelah shalat dan terkoneksi langsung dengan Rabb-Nya. Dari sana ia berniat untuk melakukan shalat setiap kali ia mulai merasakan ada yang hendak menyelusupi hati. Shalat mutlak. Itulah metode yang ia pilih untuk pengentalan diri.

7. Langkah Berani: Segera nikahi atau menawarkan diri
Well, ketika rasa itu menyapa dan kemampuan (ilmu, mental, finansial dan restu orang tua) sudah ada, maka ambilah tindakan segera agar tidak lama bergelimang dosa dan segera berganti dengan pahala. Datangi walinya dan Nikahi ia apabila kamu ikhwan. Tawarkan diri melalui perantara yang dapat dipercaya apabila kamu ahkwat. Tapi, dengan catatan lakukan semuanya sesuai dengan yang disyariatkan dan no khalwat** untill akad.

Semoga sederhana.

˙˙˙

* bagian diri manusia: berkenaan dengan jiwa, hati.
** berinteraksi, berdua-duaan tanpa mahram.

Perasaan adalah fitrah. Bagaimana kita menyikapi dan mengelolanyalah yang akan menentukan apakah itu menjadi anugerah atau malah musibah.

—esn—

Amanah Yang Berat Membuat Kita Semakin Erat

Apakah saya pernah bilang bahwa amanah akan terus mengejar sekeras apapun usaha kita untuk menghindar? Bila belum, maka saya katakan itu sekarang. Ketika memang kita sudah digariskan-Nya untuk menanggung sebuah amanah, sekeras apapun kita berusaha menghindar, ia akan terus mengejar. Karena apa? Karena amanah tidak akan pernah salah memilih pundak, begitu katanya.

Tapi sungguh amanah itu tidak mudah. Tidak akan dapat kita menanggungnya kecuali dengan berjamaah. Berkolaborasi bersama-sama, bahu membahu hingga tuntas setuntas-tuntasnya. Alhamdulillaah, Allaah SWT tidak membiarkan saya sendirian. Mereka Allaah SWT kirimkan sehingga amanahpun dapat lekas tertunaikan.

Tercatat di akhir tahun 2012, perkenalan pertama saya dengan kebanyakan dari mereka karena ada salah satu dari mereka yang telah saya kenal sebelumnya. Bersama mereka saya menghabiskan banyak waktu bersama sepanjang tahun 2013 dan setelahnya. Kami berbeda jurusan meskipun masih satu angkatan. Tak pernah dipercayakan dalam amanah yang sama juga sebelum-sebelumnya. Kepengurusan kami di tahun 2013 adalah untuk pertama kalinya kami berada dalam garis perjuangan yang sama.

tujuh serangkai yang semoga menjadi ca.bi.syur.
Semakin hari kami merasa amanah kami semakin berat. Tekanan yang kami rasakan semakin kuat. Tapi siapa sangka, semua itu membuat ukhuwah kami semakin erat. Membuat masing-masing kami semakin lekat. Hingga kadang kami harus saling berbagi cokelat. Betulan. Tekanan yang kami hadapi kadang membuat kami ini membutuhkan sesuatu untuk merilekskan diri, dan pilihan kami jatuh pada ini: es krim dan cokelat.

Sekali lagi, amanah yang berat dan waktu yang singkat menjadikan kami semakin erat. Banyak hal yang berkaitan dengan organisasi tak mampu kami selesaikan di sekretariat karena waktu yang singkat. Akhirnya mau tidak mau kami 'bekal' ke kosan, kemudian kami bahu membahu untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Bergadang bersama, bahkan kadang kami kerjakan semalaman dan hanya tidur secara berganti-gantian. Ah, sungguh sebuah kenangan yang tak terlupakan.

Bersama mereka saya belajar mendewasa, meredam ego diri untuk kepentingan bersama. Belajar banyak mendengar tanpa merasa diri yang paling benar. Belajar banyak bersabar dan bersyukur benar-benar. Amanah yang berat membuat kami menjadi semakin erat. Berbagi beban, bersama-sama bertahan. Berbagi lelah, berharap agar tetap Lillah. Berbagi airmata, hingga sampai di penghujungnya.

Saat engkau merasa amanah di pundakmu semakin berat, berbagilah. Amanah yang berat akan membuat ukhuwahmu semakin erat. In syaa Allaah.

Semoga sederhana.

˙˙˙

Kawan, perjalanan ini tidak ringan, tapi bersama kalian saya merasa tidak terlalu beban.

Kawan, perjalanan ini sungguhlah berat, tapi bersama kalian saya merasa tetap bersemangat.

Kawan, perjalanan ini sungguh tak mudah, tapi bersama kalian saya menjadi memiliki memori indah.

Kawan, perjalanan ini sungguh sangat melelahkan, tapi bersama kalian aku sanggup untuk bertahan.

Kawan, terimakasih sudah menguatkan, terimakasih atas setiap kebersamaan, terima kasih atas bala bantuanmu itu, kawan.

Kalian adalah ingatan yang merekam sepenggal kisah perjalanan. Kalian adalah memori yang merekam metamorfosis diri. Kalian adalah abadi yang kehadirannya sama-sama kita syukuri. Kalian adalah harapan semoga di masa depan kita kembali dibersamakan.

—esn—

Senin, 17 Oktober 2016

Semakin Kamu Sibuk, Semakin Efektif Waktumu

Waktu adalah pedang, begitu sang bijaksana mengibaratkannya. Sementara itu, orang Barat bilang bahwa waktu adalah uang. Meskipun dalam perumpamaan berbeda, keduanya memiliki nilai yang sama, sama-sama alat yang (pertahanan) berharga. Dan, memang begitulah hakikat waktu, begitu berharga dan selamanya tidak pernah sama: tidak akan ada waktu yang sama untuk kedua kalinya. Dari sini saja, sudah jelas terlihat bahwa kita harus betul-betul dapat memanfaatkannya, menggunakannya dengan sebaik-baiknya.

Manajemen waktu. Pernahkah mendengar kata-kata itu? Yap, betul biasanya menjadi materi training motivasi yang cukup diminati. Meskipun mungkin tidak menyeluruh, dalam postingan kali ini saya juga akan berbagi mengenai bagaimana me-menej waktu ini. Ya, seperti biasa berdasarkan pada pengalaman yang pernah saya lakukan. Hehe.

Kamu percaya tidak kalau saya bilang bahwa sibukkanlah dirimu karena itulah sebaik-baiknya cara untuk menejemen waktumu? Ya, terlepas kamu mau percaya atau tidak tapi itulah kenyataannya. Kenyataan yang rasakan dimana saya berhasil me-menej waktu dengan baik di saat saya sedang sibuk-sibuknya. Indikator keberhasilannya pun jelas ada dan 'terindera' dalam bentuk hasil studi saya. Yap, saya berada pada top level pada saat saya sedang sibuk-sibuknya menjadi top leader di organisasi saya. Alhamdulillaah.


Sebetulnya sama, ketika mendapati hal tersebut saya serasa percaya-tak percaya. Bukan apa-apa, semester sebelumnya saja yang dimana saya tidak sesibuk semester itu hasil studi saya tak sempurna, apalagi semestet itu ketika saya dalam kondisi sibuk-sibuknya mengurusi organisasi, pikir saya waktu itu. Meskipun saya memang selalu mengusahakan yang terbaik dalam apapun yang saya kerjakan, ke-tidak-percaya-diri-an itu kadang tetap membayang. Namun ternyata, kenyataan berkata lain, di saat saya sedang sibuk-sibuknya memimpin, memikirkan dan mengurusi organisasi yang saya gawangi, di saat yang sama hasil studi saya mendapatkan nilai sempurna. Alhamdulillaah. "Maka nikmat Tuhan yang mana lagi kah yang kau dustakan?" (Q.S. Ar Rahman:8)

Setidaknya dari peristiwa tersebut saya menarik kesimpulan menjadi dua hal. Pertama, Waktu paling efektif justru ada dimana kita sedang berada dalam kondisi paling sibuk-sibuknya. Kenapa? Karena dengan sibuk kita akan bersegera dan menjadi fokus dengan apa yang kita kerjakan. Ya, bersegera adalah lawan kata dari menunda-nunda—seperti yang biasa kita lakukan. Kebiasaan inilah yang membuat waktu menjadi tidak efektif, membuat manajemen waktu kita kacau balau. Dengan sibuk, kita akan bersegera karena menyadari masih banyak hal yang harus kita lakukan dan fokus. Fokus ini menjadi penting, karena fokus membuat kita tidak perlu membuang waktu untuk melakukan pekerjaan yang sama untuk kedua kalinya, mencontek catatan teman karena ketika kuliah kita gagal fokus, misalnya. Sangat tidal efektif, bukan? Ya, dengan sibuk, manajemen waktu kita akan berada pada tahap sempurna, karena ia berjalan secara alami, secara natural, dengan kesadaraan bukan paksaan. Dan, kitapun menjadi melakukan apa yang telah Allaah SWT firmankan: "Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (Q.S. Al Insyirah: 7). Alhamdulillaah.

Kedua, pergunakan sebaik-baiknya waktu yang kamu miliki, karena ia tidak akan terulang dua kali. Lakukan yang terbaik dalam setiap apapun tugas, pekerjaan dan amanahmu. Lakukan yang terbaik dalam apapun itu, selagi saat itu adalah waktumu. Jangan sampai menyesali diri ketika masamu itu pergi, tak lagi jadi milikimu. Ingat ya, bahwa segala sesuatu itu ada masanya, semua akan dipergilirkan-Nya. Maka, selagi itu masamu, pergunakanlah waktumu dengan sebaik-baiknya versimu.


Semoga sederhana.

˙˙˙
Orang sibuk tidak akan pernah mengatakan bahwa ia sibuk. Orang sibuk hanya akan melakukan yang terbaik, karena ia menyadari waktu yang sudah pergi tak akan pernah kembali dan ia tak ingin menyesali.

—esn—

Mentoring: Bukan Segala-galanya Tapi Segala-galanya Bermula Darinya

Memang, mentoring bukanlah segala-galanya tapi segala-galanya bermula darinya. In syaa Allaah saya dapat menggaransi kata-kata yang bukan kata-kata hasil pemikiran saya itu, hanya saja saya sendiri telah merasakannya. Merasakan betapa nikmatnya mentoring.

gambar diambil dari google.
Alhamdulillaah, saya bersyukur sekali dalam perjalanan hidup saya menuju kepulangan ini saya diberikan kesempatan oleh-Nya untuk berkenalan dengan mentoring. Saya berkenalan dengan ketika dulu saya masih menjadi mahasiswa baru untuk pertama kalinya. Sebuah perkenalan yang tidak terlalu menggoda sebetulnya, namun Alhamdulillaah setelahnya menjadi sangat mempesona.

Di kampus saya ada kegiatan Tutorial yang sifatnya wajib diikuti oleh seorang mahasiswa baru yang beragama Islam, setiap satu pekan sekali, ada yang kebagian hari Sabtu ada juga yang kebagian hari Ahad atau Minggu. Saya waktu itu mendapat bagian hari Ahad, kalau tidak salah. Awalnya, saya merasa ogah-ogahan karena pikiran saya waktu itu adalah akhir pekan waktunya bermalas-malasan melakukan hal-hal lain di luar perkuliahan. Namun, saya juga merasa penasaran mentoring itu ngapain aja sih, ya, ada sebuah rasa keingin tahuan dalam diri.

Pagi-pagi sekali, saya harus pergi ke kampus tepatnya menuju mesjid kampus untuk mengikuti Tutorial yang dilanjutkan dengan mentoring. Artinya apa? Artinya saya harus mandi pagi. Ya, saya tidak bermasalah dengan harus bangun pagi karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, tapi untuk mandi pagi, di hari—yang sebenarnya—libur merupakan tantangan tersendiri. Kamu tahu kan UPI? Iya kampus pendidikan yang letaknya menuju Lembang itu. Tahu kan Lembang dinginnya seperti apa? Nah, iya!

Pertama kali ikut Tutorial sejujurnya biasa saja, karena isinya hanya perkenalan dan pembacaan aturan-aturan gitu. Lalu, dilanjutkan dengan mentoring. Tidak jauh berbeda, mentoringpun untuk pertemuan pertama isinya perkenalan saja. Bedanya, perkenalan waktu mentoring itu lebih greret. Karena apa? Karena lebih personal dan panjang lebar. Kita menjadi tahu profil teman mentoring kita secara cukup detail. Teman-teman saya waktu itu bermacam-macam: jurusannya, hobynya, karakternya dan pengalamannya mengikuti mentoring ini. Yang baru pertama kali seperti saya juga ada.  Yang sudah pernah, ada. Saat diminta pendapat mengenai bagaimana rasanya ikut mentoring sebelumnya, ia cuma bilang: "pokonya mentoring itu memang bukan segala-galanya tapi segala-galanya bermula dari mentoring." Jawabnya mantap, tapi entahlah sulit rasanya untuk saya cerna. Nah, dari segala perbedaan itu, kita semua —termasuk Teteh Mentornya— memiliki satu kesamaan yang sama, yakni sama-sama ingin menjadi pribadi muslimah yang shalih. Dan, ya, dan menshalihkan, begitu tambahan yang diberikan Teteh mentornya.

Aha! Saya mendapat kosakata baru: Muslimah yang shalih dan menshalihkan. Sepanjang perjalanan pulang kata-kata itu terus terngiang, saya ingin mendapatkan perjelasan lebih, berhubung waktu mentoring hari ini tidak memungkinkan untuk mengajukan pertanyaan, saya harus bersabar menunggu pekan depan. Saya mulai merasakan ketertarikan. Alhamdulillaah.

gambar diambil dari google

Pekan demi pekan pun berlalu, saya mulai mendapatkan pencerahan-pencerahan baru, cakrawala berpikir saya mulai terbuka, wawasan saya bertambah pada segala macam subyeknya. Utamanya, mengenai siapa diri kita yang mengaku muslim ini. Saat mengetahui hal itu, saya mulai mengkomparasi dan sungguh masih jauh sekali diri ini dengan yang disebut muslim sejati. Ya, Illaahi Rabbi, ampuni hamba-Mu ini. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pemahaman agama saya, perlahan tapi pasti, saya mulai menemukan jati diri, melalui mentoring ini, saya berproses selalu untuk menjadi seorang pribadi yang jauh lebih baik dari waktu ke waktu.

Hingga saya sampai pada saat dimana langkah saya dituntun-Nya, hati saya dibisikan-Nya kemantapan untuk berhijrah. Alhamdulillaah. Dan, di sana barulah saya memahami maksud perkataan seorang teman saya yang telah terlebih dahulu merecap manisnya hidayah. Dan, ya, saya sepakat bahwa mungkin mentoring bukan segala-galanya tapi segala-galanya bermula dari mentoring. Saya sudah merasakannya. Tidakkah kamu ingin merasakannya juga? :)


Semoga sederhana.

˙˙˙

Manusia berproses untuk menemukan sebetulnya aku: the real ultimate me, dan mentoring membantu mengakselerasi prosea itu.

—esn—



Masjid: Kegelisahan, Cinta dan Ketenangan

Pagi itu selepas perkuliahan berakhir.

Ada yang berbeda, ada perasaan yang diam-diam merasuk ke dalam dada, perlahan tapi pasti bisa saja ia menggoyahkan pertahanan diri yang masih rapuh. Biasanya selepas perkuliahan berakhir saya akan ke kantin bersama dengan teman-teman, tapi pagi itu saya merasa enggan. Ada sebuah perasaan merasa asing, merasa terasing padahal tidak sedang diasingkan. Entahlah, sebuah perasaan yang tidak dapat saya ungkapkan secara gamblang.

"Ke mesjid yuk!" Ajak Matahari sembari menepuk pundakku.

Ajakannya membuyarkan pikiranku yang entah dan saya pun mengikuti langkahnya, menyamai langkahnya. Mesjid yang kami tuju tak lain adalah masjid kampus kami tercinta, masjid yang katanya merupakan masjid kampus terbesar se-Asia Tenggara, Masjid Al-Furqon namanya.

gambar diambil dari facebook kakak tingkat saya.

Meskipun sudah seringkali saya masuk ke dalam masjid ini, saya masih tetap merasakan ketakjuban seperti pertama kali, selain keagungan bangunannya, nuansanya membuat saya jatuh cinta, berkali-kali. Perasaan serupa cinta menyeruak ke dalam sukma, saya ingin selalu terpaut dengannya.

Selepas mengadukan segala kegelisahan pada-Nya, saya duduk di beranda sambil menunggu si Matahari yang belum tuntas melangitkan seluruh hajat dan harapnya. Semilir angin dari ventilasi membelai sekujur tubuh saya, sejuk sekali rasanya. Saya masih terdiam dengan pikiran yang sedang berkelana entah kemana.

"Neng, sendirian aja nih." Seseorang yang kedatangannya tanpa aku sadari, membawa kembali diri pada alam sadar ini. Rupanya ia adalah kakak tingkat saya yang terkenal militan. Dan saya, hanya menjawab sekenanya.

"Kenapa atuh? Mau cerita sama Teteh nggak?" Sebuah pertanyaan menuntut yang lembut. Dengan ragu, akhirnya saya menceritakan kegelisahan yang saya rasakan. Dengan penuh antusias ia menyimak seluruh curahan perasaan saya.

"Itu semua wajar, dek. Teteh juga pernah merasakannya. Merasa terasing, merasa berbeda, merasa takut tidak bisa bertahan, itu semua pernah teteh rasakan juga. Tidak apa-apa, nikmati saja. Hijrah itu kan berproses. Terus minta sama Allaah ya agar kita diberikan kekuatan untuk tetap istiqamah dijalan ini." 

Saat itu, tanggapannya seolah air hujan yang menumbuhkan semacam rasa ketenangan dalam kering dan gelisahnya jiwa. Menimbulkan sebuah kesadaran bahwa orang lainpun pernah merasakan di titik yang sama.

Kemudian ia pun mengajak saya untuk menyimak kembali cerita para sahabat, tentang perjuangan mereka, tentang beratnya ujian mereka, tentang keteguhan dan betapa kokohnya keimanan mereka. Mengambil ibrah dari setiap peristiwa dari kehidupan mereka.

"Nanti kamu sering-sering saja ikut kajian, dek. Biar jiwamu bisa tersirami dan bisa bersilatirahmi dengan saudara-saudara di sini. Ikutan mentoring juga kan ya? Mentoring itu penting dek, setidaknya agar kita tahu bahwa kita tidak sendiri dalam menapaki perjuangan untuk berhijrah ini." 

Saya yang saat itu belum mendaftarkan diri untuk mengikuti mentoring lanjutan—karena kegiatan mentoring sudah berakhir— seolah mendapatkan jawaban taktis atas kegelisahan yang saya rasakan. Bersama Matahari, sayapun mendaftarkan diri untuk mentoring kembali.

Ah, setelah saya ingat-ingat kembali, begitu banyak peristiwa, kegelisahan dan persoalan yang saya alami dan kemudian saya temukan solusinya di masjid ini. Atau setidaknya ketenangan, ya, jiwa saya merasa lebih tenang bila berada di sini dan dengan jiwa yang tenang itu saya dapat berpikir dengan jernih untuk mengatasi dan menyelesaikan persoalan dan ujian yang dihadapi. Ya, menyelesaikan bukan memecahkan. Dengan menyelesaikan semuanya selesai berbeda dengan memecah yang bisa jadi malah semakin rumit, karena akan banyak keping pecahan yang harus kita bereskan.

Tidak ada satupun persoalan, permasalahan, ujian atau apapun namanya, kecuali untuk kita selesaikan, untuk kita menangkan.

Semoga sederhana.

˙˙˙

Masjid adalah sumber dari segala solusi. Pantaslah, mengapa di zaman Rasulullah SAW dulu segala bentuk kegiatan, keputusan dan kebijakan lahir dari masjid. Wahai pemuda, makmurkanlah masjid, niscaya Allaah SWT memberimu petunjuk—alhadist.

—esn—


Minggu, 16 Oktober 2016

Pernak Pernik Hijrah Bagi Muslimah

Alhamdulillaah. Akhirnya saya bisa berbagi juga dengan akhawat/ukhti/mbak/adik sekalian mengenai pernak-pernik hijrah yang akan semakin memudahkan dan mengokohkan kita dalam berhijrah. In syaa Allaah. Nah, apa saja kah? Baik, sebelum kita bahas satu per satu, saya terlebih dahulu ingin menegaskan, ya, bahwasannya tidak semua pernak-pernik di sini harus a.k.a mutlak adanya. Pernak-pernik ini hanyalah sarana yang akan mengakselerasi proses hijrah kita. Ya, hijrah memang membutuhkan proses yang tidak cepat bahkan ia berproses terus sepanjang hayat. Sama, saya pun masih berproses juga, masih jauh dari hijrah yang sempurna.

Nah, kenapa tadi saya bilang bahwa dengan adanya pernak-pernik ini proses hijrah kita dapat terakselerasi? Karena eh karena, keberadaan pernak-pernik ini akan sangat membantu kita untuk berpenampilan yang sesuai dengan syariat-Nya dan tentunya juga, diikuti dengan pembiasaan untuk melakukan amalan-amalan keseharian yang lebih baik dan lebih meningkat lagi dari yang sebelum-sebelumnya dilaksanakan. In syaa Allaah.

Baiklah, tanpa ber-panjang kali lebar kali tinggi yang hasilnya akan jauh sekali. Hehe. Berikut ini adalah beberapa pernak-pernik hijrah yang disarankan kepemilikannya untuk muslimah semua.

gambar diambil dari google yang kemudian saya edit dan satukan.


1. Jilbab Syar'i
Ya, jilbab atau kerudung atau khimar atai tudung baik itu yang segiempat, segitiga maupun yang instan a.k.a bergo yang syar'i menjadi pernak-pernik utama yang harus diperhatikan oleh muslimah sekalian. Mengapa? Karena ketika memutuskan berhijrah, artinya kita ingin dan bersedia untuk berperihidup sesui dengan yang disyariatkan-Nya. Bukan begitu? Namun, bukan berarti harus memaksakan diri membeli jilbab-jilbab yang berlabel syar'i dengan harganya melangit itu ya. Memaksakan diri itu tidak baik, kecuali jika memang memiliki kemampuan, silahkan. Berjilbab syar'i masih dapat dilakukan dengan jilbab-jilbab tanpa label syar'i yang sebelumnya sudah kita miliki koq selama masih memenuhi kriteria jilbab syar'i itu sendiri. Baiklah, mari saya coba ingatkan kembali ya beberapa kriteria jilbab yang dapat dikatakan syar'i, apabila:
● menutupi kepala hingga dada, berbahan tebal dan tidak menerawang;
● tidak memperlihatkan ikatan rambut hingga menyerupai punuk unta;
● terhulur sempurna bukan seperti dililit; dan
● dipakai dengan niat untuk menutup aurat bukan untuk bermegah-megahan.



Baca Juga : Jilbabers: Label Pertama Pasca Hijrahku



2. Pakaian Syar'i
Selanjutnya yang tidak kalah utama adalah memiliki pakaian syar'i. Pun sama seperti jilbab syar'i tadi, ya. Untuk pembelian pakaian syar'i tidak boleh memaksakan diri toh bisa jadi pakaian yang kita miliki dan gunakan sehari-hari pun telah memiliki nilai-nilai yang sesuai dengan yang disyariatkan. Iya kan? Nah, yuk kita coba mengulang kembali, ya, apa saja sih yang menjadi kriteria pakaian syar'i itu?
● dapat berupa pakaian potongan (atasan dan bawahan) atau gamis a.k.a dress panjang berlengan panjang;
● longgar dan tidak memperlihatkan atau membentuk lekuk tubuh;
● berbahan tebal dan tidak menerawang;
● tidak berwarna mencolok yang dapat menyakiti pandangan;
● sederhana dan tidak bermegah-megahan.

3. Kaos Kaki
Merupakan pernak-pernik yang harus diperhatikan, karena bagaimanapun kaki seorang muslim termasuk ke dalam aurat sehingga harus ditutup. Kaos kaki ini biasanya terluput atau disepelekan oleh setiap muslimah padahal kedudukannya sama dengan badan kita. Sama-sama aurat. Selain itu, sependek pengetahuan saya, keseriusan seorang muslimah untuk berhijrah secara kaffah atau menyeluruh dapat diindikasikan dengan memakai kaos kaki atau tidaknya. Kenapa? Karena setidaknya kita bisa mengetahui apakah muslimah tersebut telah betul-betul mencari tahu terlebih dahulu dan ngelmu atau bagaimana? Seorang muslimah yang berniat berhijrah kemudian setelah ia mengetahui ilmu, in syaa Allaah, ia akan bersegera untuk mengaplikasikan dalam kesehariannya.

4. Manset Tangan
Seperti halnya kaos kaki, manset tangan ini juga kadang terlewatkan. Sebenarnya tidak masalah untuk tidak memakainya selama lengan pakaian kita dapat meng-cover aurat tangan kita yakni sampai pergelangan tangan kita. Kalau ternyata belum bisa, jangan lupa untuk memakai manset tangannya, ya.

5. Kerudung Dalaman
Kerudung dalaman ini biasanya merupakan kerudung instan non-pad. Tahu kan? Nah, iya, biasanya berbahan spandek atau kaos yang dapat meng-cover aurat tubuh kita. Keberadaannya sangat membantu bagi kita yang baru saja berhijrah dengan koleksi kerudung syar'i yang sedikit sekali. Karena apa? Karena ia dapat dijadikan dalaman kerudung tipis a.k.a paris yang biasanya sudah kita miliki. Sehingga tanpa didouble pun tidak apa-apa, karena tidak akan menerawang dengan keberadaan kerudung dalaman ini. Penggunaanya yang sangat praktis memudahkan kita untuk cepat dalam menata jilbab kita.

6. Al-Qur'an Saku
Berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, Al-Qur'an Saku sekarang lucu-lucu bahkan ada edisi khusus muslimahnya juga. Kalau dulu, yang namanya Al-Qur'an saku ya begitu tidak banyak pilihan baik warna maupun layout isi dan tambahannya. Eits, tapi bukan itu ya tujuannya. Bukan untuk lucu-lucuan. Keberadaan Al-Qur'an saku di tas kita sangat-sangat berguna untuk mengingatkan diri kita dengan niat baik kita, sekalipun kita tidak dalam keadaan membacanya, hanya melihatnya ketika mau mengambil ballpoint, misalnya. Selain itu, dengan keberadaannya yang selalu dapat kita akses kapan pun sangat membantu kita untuk senantiasa mengisi waktu kita dengan hal-hal yang bermanfaat. Sembari menunggu dosen masuk kita bisa bertilawah dulu, contohnya dan juga waktu-waktu lainnya, sehingga tidam ada wakti kita yang terbuang percuma.

7. Buku Tuntunan Dzikir Pagi dan Petang
Atau yang biasa disebut dengan Dzikir Al-Matsurat yaitu dzikir yang dinukil dari dzikir harian Nabi Muhammad SAW yang sahih dan dibukukan oleh Imam Hasan Albana. Terdiri dari dua macam: Sughra dan Kubra. Keduanya sama saja sebetulnya, bedanya yang Kubra ini lebih panjang sesuai namanya. Untuk pembiasaan awalan rata-rata akam memulai dari yang Sughra terlebih dahulu, baru setelah terbiasa nanti beralih ke yang Kubra. Adanya buku ini dapat mengakselerasi kita untuk memulai menghidupkan sunnah dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga sangat direkomendasikan untuk memiliki buku ini. Harganya pun sangat terjangkau. Atau, kalau yang lebih praktis yakni berupa e-book sehingga dapat disimpan dalam gadget, ya, boleh-boleh saja. Sayapun dengan senang hati mau berbagi. Versi e-book pun saya punya, bagi yang menginginkannya silahkan tinggalkan pesan di komentar, ya. In syaa Allaah nanti saya kirimkan segera.



Baca Juga : Cerita Unik Dibalik Hijrahku



Semoga sederhana.

˙˙˙

Bersegera dalam menjalankan perintah-Nya. Bergegas menggapai sempurna dalam ibadah pada-Nya. Kenapa tidak?

—esn—

Cerita Unik di Balik Hijrahku

Masih seputar cerita hijrah saya. Kali ini saya ingin berbagi mengenai cerita unk di balik proses hijrah saya yang banyak orang tak mengiranya. Ya, banyak orang tak mengira bahwa saya akan berhijrah secepat itu. Pun, tak banyak memang, yang mengetahui bagaimana dilematika yang bergejolak di dalam jiwa dan konflik bathin yang saya alami berkaitan dengan niatan saya untuk berhijrah. Tanpa ada angin-hujan-badai, tahu-tahu saja saya sudah berhijrah. Hehe.

Termasuk orang tua saya. Ya, mereka tidak mengetahui bahwa saya sedang berprosea untuk berhijrah. Selain takutnya mereka menjadi berpikir yang aneh-aneh, semenjak kuliah saya mulai berusaha untuk menyelesaikan segala persoalan hidup saya sendiri, ceritanya mau belajar mandiri. Setelah memutuskan berhijrah, seminggu kemudian saya pulang ke rumah dengan membawa beberapa tas jingjingan. Isinya? Semua celana jeans saya. Ya, semuanya termasuk celana-celana yang baru saya beli ketika masuk kuliah waktu itu, saya bungkus semua untuk dibawa pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ekspresi orang rumah tentu saja terheran-heran dengan 'perubahan tampilan' saya. Namun, mamah yang kala itu menyambut saya lebih sigap menyuruh saya beristirahat ketimbang bertanya mengenai perubahan tersebut, meski terlihat dari tatapannya yang mempertanyakan. Saya pun memilih mengistirahatkan diri daripada memberikan penjelasan atas pertanyaan yang tak terungkapkan. Hehe.

Besoknya, pagi-pagi saya langsung menyerahkan barang bawaan saya ke mamah dan dengan polos tanpa dosa bilang—yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bunyinya—begini: "Mah, tolong ini dibagikan saja ke saudara atau tetangga.."
Mamah sontak membuka bungkusan tersebut, setelah terbuka diketahui bahwa isinya adalah baju-baju yang 'kekecilan' dan seluruh celana jeans yang saya bawa ke Bandung. Reaksi Mamah? Susah menggambarkannya. Tapi kemudian "Loh, ini kan masih baru, baru kamu beli kemarin pas mau kuliah. Emang kenapa mau dikasih-kasih?" Tanyanya. "Iya, sekarang aku sudah tidak mau pakai itu lagi. Mau pakai rok saja. Doakan ya." Jawabku mantap. Mamah? Masih terheran-heran dengan tingkah ajaibku. Ya, bagaimana tidak ajaib, dulu disuruh pakai rok itu susahnya minta ampun, disuruh beli pun malah memilih tak beli pakaian daripada harus beli rok. Kurang ajaib apa? Dan, lucunya ya, dikemudian hari diketahui bahwa ternyata Mamah belum juga membagikan pakaian-pakaian tersebut, Mamah takut aku hanya 'berubah sementara', Mamah memilih menyimpannya dengan rapih dan baru kemudian membagikannya setelah yakin bahwa anaknya telah 'berubah permanen' setelah melihat saya beberapa bulan tersebut istiqamah memakai pakaian syar'i. Alhamdulillaah.

gambar diambil dari google, berhubung koleksi jeans saya entah sudah dimana. Hehe.


Hmmm.. di atas sudah saya katakan bahwa saya ingin belajar hidup mandiri, kan? Nah, Frasa ini: Hidup Mandiri, saya dapatkan setelah saya mengikuti training motivasi dari seorang motivator nasional kalau tidak salah, yang diadakan pada kegiatan Tutorial, lagi-lagi Tutorial. Jadi, begini cerita awalnya, dalam training tersebut sang motivator menjelaskan perjalanan hidup dan targetannya ketika kuliah. Salah satunya adalah mandiri secara finansial ketika semester empat kuliah, maka, mulailah ia berjualan apa saja yang bisa dijual dan tak mengganggu perkuliahannya. Ia menyampaikannya dengan heroik sekali, saya termotivasi untuk mengikuti. Kemudian ia menantang, siapa yang berani saat itu juga untuk menelepon orang tua dan bilang tak usah lagi dikirimi uang bulan karena mau belajar mandiri secara penghasilan. Dan, ternyata ada yang berani saudara-saudara. Ikhwan dari baris depan. Wih, keren lah. Saya? Masih pikir-pikir. Hehe.

Hari berlalu, dan saya masih bergulat dengan pikiran: "saya jualan apa, ya?" Sampai suatu hari saya membawa bekal nasi kuning ke kelas dan ternyata teman-teman pada nyicip dan menurut mereka enak. Aha! Saya dapat inspirasi juga. Akhirnya saya membuat list pemesan yang tak lain teman-teman kelas sendiri dan mulai berjualan nasi kuning dan nasi uduk sesuai pesanan.

gambar diambil dari google. beginilah kurang lebih tampilan nasi kuning jualan saya dulu, sayang, dulu tak sempat mengabadikannya. Huhu.


Uniknya, setelah sehari berjualan nasi dan belum sempat menghitung keuntungan yang didapatkan—waktu itu saya mengambil keuntungan lima ratus rupiah saja per porsi. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, sebelum berangkat ke kampus, saya sudah menelepon orang tua. Tujuannya? Tentu saja, dengan bangga dan penuh percaya diri bilang: "Mah, Tak usah kirimi saya uang bulanan lagi, saya bisa belajar mandiri. Assalamualaikum." Klik. Telepon saya langsung tutup tanpa mendengar komentar yang ditelepon di sana. Maklum, jiwa saya masih berapi-api setelah disiram bensin motivasi tempo hari lalu. Hehe.

Hasilnya? Alhamdulillaah, saya berjualan nasi kuning dan uduk dan berhasil bertahan selama satu pekan dan bubar jalan di pekan selanjutnya karena saya kurang sabar. Hehe. Hingga ujung-ujungnya tetap saja mengandalkan subsidi orang tua untuk pembiayaan hidup saya. Baiklah, misi hidup mandiri di awal hijrah saya belum gagal total. Hehe. Tapi tidak apa, dari sana saya belajar bahwa memang tidak ada yang instan dalam hidup ini. Termasuk mie instan yang jadi teman setia saya waktu zaman jadi anak kosanpun sebenarnya tidak instan, karena ia tidak masak begitu saja, kita perlu terlebih dahulu menyiapkan air manas, mangkuk, sendok dan garpu sehingga ia bisa sampai ke mulut kemudian perut kita.

Semoga sederhana.

˙˙˙

Setiap orang punya cerita hijrahnya masing-masing, punya tantangan yang harus ditaklukannya masing-masing. Dan, setiap cerita punya keunikannya masing-masing. Itu ceritaku, mana ceritamu?

—esn—

Jilbabers: Label Baru Pasca Hijrahku

aku malu atas diriku yang dulu

tak menjalankan syariat-Mu, aku malu

aku malu tergoda bujuk semu

tak patuhi aturan-Mu, aku malu

aku malu pada mereka yang lebih dulu

tak bersegera setelah aku tahu, aku malu

aku malu... pada-Mu...


Alhamdulillaah, pada akhirnya dengan kemantapan yang dibisikan-Nya pada hati saya, saya memutuskan untuk berhijrah. Ya, berhijrah lahir dan bathin saya. Mentaubati dosa-dosa saya di masa lalu dan juga mengganti pakaian masa lalu saya. Benar sekali, saya mulai berpakaian yang sesuai dengan yang disyariatkan agama atau dikenal dengan berpakaian syar'i. Alhamdulillaah wa Syukurillaah.

Jangan bayangkan saya langsung beli dan punya banyak pakaian syar'i, ya. Tidak sampai seperti itu, koq. Meski pengennya sih begitu. Hehe. Tapi, ya, bagaimanapun saat itu saya hanyalah seorang mahasiswa yang hidup dengan mengandalkan beasiswa dari orang tua dan kemudian dari kampus juga sih. Jumlahnya? Ya, cukup lah untuk membayar biaya kuliah dan biaya hidup sehari-hari saya, tapi tidak cukup untuk langsung beli banyak pakaian syar'i.

Lantas, apakah saya berpakaian yang itu-itu saja? Hehe. Tentu saja tidak, saya mencoba menyiasati untuk tetap berpakaian syar'i dengan pakaian-pakain yang saya punya. Pakaian atasan saya sudah 'cukup' syar'i kebayangan berlengan panjang dan yang pendek saya tutupi dengan cardigan. Kerudung saya yang tipis saya double seperti yang sudah saya ceritakan di sini. Yang menjadi permasalahan adalah pakaian bawahan saya. FYI, saya itu dulunya tomboy sekali. Hehe. Dua. Saya hanya memiliki dua rok dalam seluruh koleksi pakaian saya. Satu rok yang dipaksa dibeli oleh Mamah dan satu rok lagi, rok hitam bekas kegiatan Masa Orientasi Kampus dulu. Sudah itu tok. Sehingga melihat kondisi ini, saya putuskan untuk membeli satu buah rok lagi. Kalau tidak salah ingat, rok pertama yang sama beli pasca hijrah itu berwarna cokelat susu, harganya empat puluh lima ribu, di beli dari toko pakaian muslimah sekitar kampus. Di jajaran pertokoan yang sama saya juga beli manset tangan dan juga kaos kaki. Alhamdulillaah, dengan keterbatasan tersebut saya masih bisa tetap syar'i dalam berpakaian keseharian seperti yang telah saya niatkan.

Saya ingat, hari pertama saya menggunakan rok dan jilbab yang lebar ke kampus, saya merasa seakan-akan semua mata tertuju padaku. Huhu. Saya malu. Bahkan, beberapa teman mulai memanggil saya dengan sebutan ukhti dan hal itu cukup kentara sekali, biasanya hanya Matahari yang mendapatkan panggilan seperti itu di kelas.

Ketika saya mulai memakai pakaian syar'i, hal tersebut memang tidak cukup banyak yang mengetahui, kecuali teman-teman kelas, tetangga kosan, orang yang berpapasan dan lingkaran pertemanan terdekat saya saja. Sampai suatu hari, sampailah berita tersebut pada teman-teman seangkatan saya hingga teman-teman waktu saya SMA. Beritanya nggak kalah fenomenal: "Si ESN sekarang sudah jadi Jilbabers", "Si ESN sekarang sudah jadi Ukhti-ukhti". Dan, semua menjadi penasaran pada penampilan saya. Wkwk. Hmmm, tahu kah? Sampai pernah ya, ceritanya, ditengah-tengah jam kuliah, hape saya terus bergetar. Ternyat eh ternyata ada orang yang sengaja menyempatkan diri untuk menelepon saya berkali-kali karena tak segera mendapat respon karena saya sedang ada kelas tadi, hingga setelah selesai kuliah dia menelepon kembali. Keperluannya apa coba? Ya, hanya untuk mengkonfirmasi apakah benar saya sudah menjadi Jilbabers dan Ukhti-ukhti? Duh. Niat sekali.

Tapi semua itu hanya terjadi di awal saja, lama kelamaan saya menjadi terbiasa dengan sendirinya. Alhamdulillaah. Ya, mungkin hal tersebut adalah ujian niat. Ujian kemantapan hati. Ujian kesungguhan. Ujian keseriusan dalam menjalankan apa yang telah diputuskan. Alhamdulillaah, kini semua itu sudah terlewati.

Semoga sederhana.

˙˙˙
Dear kamu yang sedang berniat untuk berhijrah, jangan ragu untuk melangkah. Jangan takut pada 'apa kata orang'. Jangan takut untuk menjalani apa yang kamu yakini. Selama lurus niat hijrahmu, in syaa Allaah Ia akan mempermudah setiap langkahmu. Dan, setiap manusia akam disampaikan pada apa yang ia niatkan (alhadist).

—esn—



Sabtu, 15 Oktober 2016

Mendobrak Budaya: Aktivis Mahasiswa Itu Lama Lulus Kuliahnya

"Menjadi aktivis mahasiswa itu biasanya suka lama lulusnya. Makanya, aku mending gak ikutan organisasi ini-itu aja lah, biar cepet lulus."

Kata-kata yang dilontarkan salah seorang kakak tingkat waktu itu begitu terngiang di telinga saya. Bukannya apa-apa, hanya, jujur saja, sedari awal menjadi mahasiswa saya mulai terkena pesonanya, diam-diam melirik pandang. Bagi saya yang waktu ikut latihan dasar kepemimpinan mahasiswa untuk pertama kalinya, aktivis mahasiswa itu mempesona dan keren abiz! Apatah lagi waktu pertama kali dibimbing soal manajemen aksi sekaligus simulasi. Masyaa Allaah, terasa sekali mahasiswanya. Fungsi social control serasa melekat di jiwa. Ya, walaupun kalau diingat-ingat, lucuk juga sih. Bentar ya, saya ijin mau tertawa dulu: Hehe.

Jadi, ceritanya waktu itu kami (saya dan teman-teman seangkatan) simulasi aksi, isu yang diangkat waktu itu adalah Mahalnya Biaya PAB a.k.a Penerimaan Anggota Baru di Jurusan sata. Dan, tahu kah? Apa tuntutan kami sewaktu diadakan sesi audiensi sama kakak-kakak panitia setelah terlebih dahulu keliling aksi demonstrasi dan adu pagar betis, basah-basahan dibawah gas air mata bohongan a.k.a balon dan keresek yang diisi air kemudian berhasil menembus pertahanan? Ya, tentu saja yang pertama kami minta adalah transparansi dari dana yang dipungut dari kami penggunaannya untuk apa saja, mereka pun menjelaskan. Setelah penjelasan itu, sependek pemikiran kami, biaya tersebut masih ada dalam batas wajar bahkan bisa dibilang wajar sekali. Sampai akhirnya kami menemukan biaya yang tidak wajar, pada biaya konsumsi. Ya, jadi ceritanya biaya konsumsi ini sangat jauh berbeda dengan biaya yang lainnya, terlalu murah. Kamipun waktu itu bersepakat untuk menuntut: Naikkan biaya konsumsi! Hihi. Sekilas terlihat konyol sekali, kan? Eits, sebentar dulu, maksud hati kami adalah: Tolong berikan kami konsumsi yang layak, agak dimahalin sedikit juga tidak apa-apa, asal konsumsi kami nanti manusiawi dan sehat bergizi. Tapi kenapa solusinya minta naikkan biaya PAB ya? kenapa tidak minta pangkas anggaran lain untuk dialihkan ke konsumsi saja, ya? Hehe. Ah, sudahlah. Itu hanya masa lalu. Namanya juga simulasi, baru pertama kali pun aksi-demonstrasi. Untuk ditertawakan bersama ketika masa tua saja lah, ya. Hehe.

Okay, back to topic. Selang waktu berganti, saya semakin bersemangat untuk gabung di organisasi sana-sini. Karena apa? Karena, pertama saya penasaran. Ya, sifat ini kadung melekat kuat dalam diri. Penasaran apa betul apa yang kakak tingkat saya katakan seperti di atas? Saya penasaran beneran dan dengan sukarela saya mengorbankan diri sendiri untuk membuktikan kebenaran hal tersebut. Karena jika memang hal itu adalah fakta, maka bahaya, karena jelas bersebrangan dengan target saya untuk lulus dalam waktu maksimal 3,5 tahun sementara di sisi lain saya kadung ingin menjadi aktivis, panggilan jiwa: ingin berbuat lebih. Kedua, karena saya ngin mendobrak budaya tersebut. Pembuktian diri. Saya ingin membuktikan dan memberitahu semua mahasiswa bahwa menjadi aktivis mahasiswa itu adalah pilihan tepat dan In syaa Allaah terbaik bagi setiap-tiap diri mahasiswa. 

Meski masih semester satu, nama saya waktu itu sudah tercatat menjadi anggota dan pengurus di beberapa organisasi, baik intra maupun ekstra kampus dan tentunya dengan fokus yang berbeda: penalaran dan penelitian, kajian kebijakan serta keagamaan. Agak kewalahan, memang. Ya, sebagaimana memulai kehidupan baru, tentunya kita membutuhkan penyesuaian. Itupun sama saya rasakan. Meski kadang kelelahan, sampai saat itu saya tetap bertahan dengan seluruh posisi saya, mengusahakan yang terbaik dalam setiap peran saya. Hingga akhir semesterpun tiba, ditengah hiruk pikuk kegiatan mahasiswa, untuk pertama kalinya saya mendapatkan KHS a.k.a Kartu Hasil Studi. Alhamdulillaah, nilai saya sempurna. Sayapun semakin bersemangat menjadi aktivis mahasiswa, yang berprestasi tentunya.

Menjadi staff, menjadi pengurus inti bahkan pimpinan tertinggi dari organisasi pernah saya rasakan. Rapat ini-itu sudah menjadi makanan saya sehari-hari. Menjadi mahasiswa paling awal datang ke kampus sebelum datang pagi dan menjadi mahasiswa paling akhir pulang dari setelah kampus sepi, pernah saya alami. Capek? Tentu saja, tapi Alhamdulillaah saya menikmati sekali. Seperti yang motivator dalam acara Tutorial bilang: Hadapi, Hayati, Nikmati.

Berkah berorganisasi dan terjun menjadi aktivis mahasiswa itu banyak sekali. Sebut saja jejaring yang luas, teman yang banyak, kenalan dari beebagai penjuru negeri dan tentunya pengalaman yang tidak ternilai adalah sepersedikit dari sekian banyak hal yang didapatkan dengan berorganisasi, dengan menjadi aktivis mahasiswa.

Dan, kabar baiknya adalah: AKTIVIS MAHASISWA ITU LAMA LULUSNYA HANYALAH MITOS BELAKA. Saya sudah membuktikannya. Ya, meskipun target saya sedikit meleset karena saya satu dan lain hal yang tidak ada hubungannya dengan menjadi aktivis mahasiswa saya belum bisa lulus 3,5 tahun. Namun, Alhamdulillaah saya dapat menyelesaikannya dalam waktu 3,8 tahun dan dengan IPK yang nyaris sempurna, Alhamdulillah Cum Laude juga. Dipercaya sebagai salah satu lulusan terbaik juga. Sempat jadi mawapres juga, ya, meskipun hanya sampai fakultas, lumayan lah ya, karena waktu itu saya sedanh hoby-hobynya riweuh mengurusi aksi. Hehe. Bukan. In syaa Allaah saya bukan sedang berbangga diri, apatah lagi menyombongkan diri. Da aku mah apa atuh? Hanya butiran debu jika tanpa pertolongan-Nya. Saya hanya sedang mengingat kembali mengenai capaian diri, sembari berbagi, barangkali akan ada yang terinspirasi. Semoga saja, tidak berlebihan.



Well, akan lama atau sebentarnya masa pendidikan kita akan sangat tergantung pada diri kita sendiri. Tergantung kita membulatkan tekad kita. Tergantung kita mengatur waktu kita. Tergangung kita menyiasati peran diri kita. Ya, semua tergantung kita. Tergantung bagaimana kita menata pola pikir kita. Tergantung bagaimana kita memandang tantangan yang ada. Tergantung dengan siapa dan apa buku bacaan kita. Ya, siapa temanmu dan apa bacaanmu akan berpengaruh besar terhadap hidupmu, setidaknya dalam kurun waktu 5 tahun ke depan. Begitu menurut penelitian.

So, jangan pernah takut akan lulus lama ketika telah memutuskan dan memantapkan diri untuk menjadi aktivis mahasiswa, ya. Tenang saja, kita masih bisa mendobrak budaya yang ada. Biarlah orang berkata apa, kita tunjukan saja kemampuan kita. Buktinya, saja saja bisa, apatah lagi kamu, iya kamu, yang luar biasa!

Semoga sederhana.

˙˙˙
Tulisan ini teruntuk adik-adikku, mahasiswa, yang masih saja ada yang meragu untuk menjerumuskan dirinya menjadi 'mahasiswa seutuhnya'. Mahasiswa yang bergerak sesuai dengan peran dan fungsinya sebagai mahasiswa, yang tidak hanya melulu beegelut dengan dunia akademik saja. Sudah, itu saja. Hilangkan keraguanmu itu, dek. Sekarang, giliran kamu naik pentas!

—esn—