Tampilkan postingan dengan label Hijrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hijrah. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Oktober 2016

Mentoring: Bukan Segala-galanya Tapi Segala-galanya Bermula Darinya

Memang, mentoring bukanlah segala-galanya tapi segala-galanya bermula darinya. In syaa Allaah saya dapat menggaransi kata-kata yang bukan kata-kata hasil pemikiran saya itu, hanya saja saya sendiri telah merasakannya. Merasakan betapa nikmatnya mentoring.

gambar diambil dari google.
Alhamdulillaah, saya bersyukur sekali dalam perjalanan hidup saya menuju kepulangan ini saya diberikan kesempatan oleh-Nya untuk berkenalan dengan mentoring. Saya berkenalan dengan ketika dulu saya masih menjadi mahasiswa baru untuk pertama kalinya. Sebuah perkenalan yang tidak terlalu menggoda sebetulnya, namun Alhamdulillaah setelahnya menjadi sangat mempesona.

Di kampus saya ada kegiatan Tutorial yang sifatnya wajib diikuti oleh seorang mahasiswa baru yang beragama Islam, setiap satu pekan sekali, ada yang kebagian hari Sabtu ada juga yang kebagian hari Ahad atau Minggu. Saya waktu itu mendapat bagian hari Ahad, kalau tidak salah. Awalnya, saya merasa ogah-ogahan karena pikiran saya waktu itu adalah akhir pekan waktunya bermalas-malasan melakukan hal-hal lain di luar perkuliahan. Namun, saya juga merasa penasaran mentoring itu ngapain aja sih, ya, ada sebuah rasa keingin tahuan dalam diri.

Pagi-pagi sekali, saya harus pergi ke kampus tepatnya menuju mesjid kampus untuk mengikuti Tutorial yang dilanjutkan dengan mentoring. Artinya apa? Artinya saya harus mandi pagi. Ya, saya tidak bermasalah dengan harus bangun pagi karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, tapi untuk mandi pagi, di hari—yang sebenarnya—libur merupakan tantangan tersendiri. Kamu tahu kan UPI? Iya kampus pendidikan yang letaknya menuju Lembang itu. Tahu kan Lembang dinginnya seperti apa? Nah, iya!

Pertama kali ikut Tutorial sejujurnya biasa saja, karena isinya hanya perkenalan dan pembacaan aturan-aturan gitu. Lalu, dilanjutkan dengan mentoring. Tidak jauh berbeda, mentoringpun untuk pertemuan pertama isinya perkenalan saja. Bedanya, perkenalan waktu mentoring itu lebih greret. Karena apa? Karena lebih personal dan panjang lebar. Kita menjadi tahu profil teman mentoring kita secara cukup detail. Teman-teman saya waktu itu bermacam-macam: jurusannya, hobynya, karakternya dan pengalamannya mengikuti mentoring ini. Yang baru pertama kali seperti saya juga ada.  Yang sudah pernah, ada. Saat diminta pendapat mengenai bagaimana rasanya ikut mentoring sebelumnya, ia cuma bilang: "pokonya mentoring itu memang bukan segala-galanya tapi segala-galanya bermula dari mentoring." Jawabnya mantap, tapi entahlah sulit rasanya untuk saya cerna. Nah, dari segala perbedaan itu, kita semua —termasuk Teteh Mentornya— memiliki satu kesamaan yang sama, yakni sama-sama ingin menjadi pribadi muslimah yang shalih. Dan, ya, dan menshalihkan, begitu tambahan yang diberikan Teteh mentornya.

Aha! Saya mendapat kosakata baru: Muslimah yang shalih dan menshalihkan. Sepanjang perjalanan pulang kata-kata itu terus terngiang, saya ingin mendapatkan perjelasan lebih, berhubung waktu mentoring hari ini tidak memungkinkan untuk mengajukan pertanyaan, saya harus bersabar menunggu pekan depan. Saya mulai merasakan ketertarikan. Alhamdulillaah.

gambar diambil dari google

Pekan demi pekan pun berlalu, saya mulai mendapatkan pencerahan-pencerahan baru, cakrawala berpikir saya mulai terbuka, wawasan saya bertambah pada segala macam subyeknya. Utamanya, mengenai siapa diri kita yang mengaku muslim ini. Saat mengetahui hal itu, saya mulai mengkomparasi dan sungguh masih jauh sekali diri ini dengan yang disebut muslim sejati. Ya, Illaahi Rabbi, ampuni hamba-Mu ini. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pemahaman agama saya, perlahan tapi pasti, saya mulai menemukan jati diri, melalui mentoring ini, saya berproses selalu untuk menjadi seorang pribadi yang jauh lebih baik dari waktu ke waktu.

Hingga saya sampai pada saat dimana langkah saya dituntun-Nya, hati saya dibisikan-Nya kemantapan untuk berhijrah. Alhamdulillaah. Dan, di sana barulah saya memahami maksud perkataan seorang teman saya yang telah terlebih dahulu merecap manisnya hidayah. Dan, ya, saya sepakat bahwa mungkin mentoring bukan segala-galanya tapi segala-galanya bermula dari mentoring. Saya sudah merasakannya. Tidakkah kamu ingin merasakannya juga? :)


Semoga sederhana.

˙˙˙

Manusia berproses untuk menemukan sebetulnya aku: the real ultimate me, dan mentoring membantu mengakselerasi prosea itu.

—esn—



Masjid: Kegelisahan, Cinta dan Ketenangan

Pagi itu selepas perkuliahan berakhir.

Ada yang berbeda, ada perasaan yang diam-diam merasuk ke dalam dada, perlahan tapi pasti bisa saja ia menggoyahkan pertahanan diri yang masih rapuh. Biasanya selepas perkuliahan berakhir saya akan ke kantin bersama dengan teman-teman, tapi pagi itu saya merasa enggan. Ada sebuah perasaan merasa asing, merasa terasing padahal tidak sedang diasingkan. Entahlah, sebuah perasaan yang tidak dapat saya ungkapkan secara gamblang.

"Ke mesjid yuk!" Ajak Matahari sembari menepuk pundakku.

Ajakannya membuyarkan pikiranku yang entah dan saya pun mengikuti langkahnya, menyamai langkahnya. Mesjid yang kami tuju tak lain adalah masjid kampus kami tercinta, masjid yang katanya merupakan masjid kampus terbesar se-Asia Tenggara, Masjid Al-Furqon namanya.

gambar diambil dari facebook kakak tingkat saya.

Meskipun sudah seringkali saya masuk ke dalam masjid ini, saya masih tetap merasakan ketakjuban seperti pertama kali, selain keagungan bangunannya, nuansanya membuat saya jatuh cinta, berkali-kali. Perasaan serupa cinta menyeruak ke dalam sukma, saya ingin selalu terpaut dengannya.

Selepas mengadukan segala kegelisahan pada-Nya, saya duduk di beranda sambil menunggu si Matahari yang belum tuntas melangitkan seluruh hajat dan harapnya. Semilir angin dari ventilasi membelai sekujur tubuh saya, sejuk sekali rasanya. Saya masih terdiam dengan pikiran yang sedang berkelana entah kemana.

"Neng, sendirian aja nih." Seseorang yang kedatangannya tanpa aku sadari, membawa kembali diri pada alam sadar ini. Rupanya ia adalah kakak tingkat saya yang terkenal militan. Dan saya, hanya menjawab sekenanya.

"Kenapa atuh? Mau cerita sama Teteh nggak?" Sebuah pertanyaan menuntut yang lembut. Dengan ragu, akhirnya saya menceritakan kegelisahan yang saya rasakan. Dengan penuh antusias ia menyimak seluruh curahan perasaan saya.

"Itu semua wajar, dek. Teteh juga pernah merasakannya. Merasa terasing, merasa berbeda, merasa takut tidak bisa bertahan, itu semua pernah teteh rasakan juga. Tidak apa-apa, nikmati saja. Hijrah itu kan berproses. Terus minta sama Allaah ya agar kita diberikan kekuatan untuk tetap istiqamah dijalan ini." 

Saat itu, tanggapannya seolah air hujan yang menumbuhkan semacam rasa ketenangan dalam kering dan gelisahnya jiwa. Menimbulkan sebuah kesadaran bahwa orang lainpun pernah merasakan di titik yang sama.

Kemudian ia pun mengajak saya untuk menyimak kembali cerita para sahabat, tentang perjuangan mereka, tentang beratnya ujian mereka, tentang keteguhan dan betapa kokohnya keimanan mereka. Mengambil ibrah dari setiap peristiwa dari kehidupan mereka.

"Nanti kamu sering-sering saja ikut kajian, dek. Biar jiwamu bisa tersirami dan bisa bersilatirahmi dengan saudara-saudara di sini. Ikutan mentoring juga kan ya? Mentoring itu penting dek, setidaknya agar kita tahu bahwa kita tidak sendiri dalam menapaki perjuangan untuk berhijrah ini." 

Saya yang saat itu belum mendaftarkan diri untuk mengikuti mentoring lanjutan—karena kegiatan mentoring sudah berakhir— seolah mendapatkan jawaban taktis atas kegelisahan yang saya rasakan. Bersama Matahari, sayapun mendaftarkan diri untuk mentoring kembali.

Ah, setelah saya ingat-ingat kembali, begitu banyak peristiwa, kegelisahan dan persoalan yang saya alami dan kemudian saya temukan solusinya di masjid ini. Atau setidaknya ketenangan, ya, jiwa saya merasa lebih tenang bila berada di sini dan dengan jiwa yang tenang itu saya dapat berpikir dengan jernih untuk mengatasi dan menyelesaikan persoalan dan ujian yang dihadapi. Ya, menyelesaikan bukan memecahkan. Dengan menyelesaikan semuanya selesai berbeda dengan memecah yang bisa jadi malah semakin rumit, karena akan banyak keping pecahan yang harus kita bereskan.

Tidak ada satupun persoalan, permasalahan, ujian atau apapun namanya, kecuali untuk kita selesaikan, untuk kita menangkan.

Semoga sederhana.

˙˙˙

Masjid adalah sumber dari segala solusi. Pantaslah, mengapa di zaman Rasulullah SAW dulu segala bentuk kegiatan, keputusan dan kebijakan lahir dari masjid. Wahai pemuda, makmurkanlah masjid, niscaya Allaah SWT memberimu petunjuk—alhadist.

—esn—


Minggu, 16 Oktober 2016

Pernak Pernik Hijrah Bagi Muslimah

Alhamdulillaah. Akhirnya saya bisa berbagi juga dengan akhawat/ukhti/mbak/adik sekalian mengenai pernak-pernik hijrah yang akan semakin memudahkan dan mengokohkan kita dalam berhijrah. In syaa Allaah. Nah, apa saja kah? Baik, sebelum kita bahas satu per satu, saya terlebih dahulu ingin menegaskan, ya, bahwasannya tidak semua pernak-pernik di sini harus a.k.a mutlak adanya. Pernak-pernik ini hanyalah sarana yang akan mengakselerasi proses hijrah kita. Ya, hijrah memang membutuhkan proses yang tidak cepat bahkan ia berproses terus sepanjang hayat. Sama, saya pun masih berproses juga, masih jauh dari hijrah yang sempurna.

Nah, kenapa tadi saya bilang bahwa dengan adanya pernak-pernik ini proses hijrah kita dapat terakselerasi? Karena eh karena, keberadaan pernak-pernik ini akan sangat membantu kita untuk berpenampilan yang sesuai dengan syariat-Nya dan tentunya juga, diikuti dengan pembiasaan untuk melakukan amalan-amalan keseharian yang lebih baik dan lebih meningkat lagi dari yang sebelum-sebelumnya dilaksanakan. In syaa Allaah.

Baiklah, tanpa ber-panjang kali lebar kali tinggi yang hasilnya akan jauh sekali. Hehe. Berikut ini adalah beberapa pernak-pernik hijrah yang disarankan kepemilikannya untuk muslimah semua.

gambar diambil dari google yang kemudian saya edit dan satukan.


1. Jilbab Syar'i
Ya, jilbab atau kerudung atau khimar atai tudung baik itu yang segiempat, segitiga maupun yang instan a.k.a bergo yang syar'i menjadi pernak-pernik utama yang harus diperhatikan oleh muslimah sekalian. Mengapa? Karena ketika memutuskan berhijrah, artinya kita ingin dan bersedia untuk berperihidup sesui dengan yang disyariatkan-Nya. Bukan begitu? Namun, bukan berarti harus memaksakan diri membeli jilbab-jilbab yang berlabel syar'i dengan harganya melangit itu ya. Memaksakan diri itu tidak baik, kecuali jika memang memiliki kemampuan, silahkan. Berjilbab syar'i masih dapat dilakukan dengan jilbab-jilbab tanpa label syar'i yang sebelumnya sudah kita miliki koq selama masih memenuhi kriteria jilbab syar'i itu sendiri. Baiklah, mari saya coba ingatkan kembali ya beberapa kriteria jilbab yang dapat dikatakan syar'i, apabila:
● menutupi kepala hingga dada, berbahan tebal dan tidak menerawang;
● tidak memperlihatkan ikatan rambut hingga menyerupai punuk unta;
● terhulur sempurna bukan seperti dililit; dan
● dipakai dengan niat untuk menutup aurat bukan untuk bermegah-megahan.



Baca Juga : Jilbabers: Label Pertama Pasca Hijrahku



2. Pakaian Syar'i
Selanjutnya yang tidak kalah utama adalah memiliki pakaian syar'i. Pun sama seperti jilbab syar'i tadi, ya. Untuk pembelian pakaian syar'i tidak boleh memaksakan diri toh bisa jadi pakaian yang kita miliki dan gunakan sehari-hari pun telah memiliki nilai-nilai yang sesuai dengan yang disyariatkan. Iya kan? Nah, yuk kita coba mengulang kembali, ya, apa saja sih yang menjadi kriteria pakaian syar'i itu?
● dapat berupa pakaian potongan (atasan dan bawahan) atau gamis a.k.a dress panjang berlengan panjang;
● longgar dan tidak memperlihatkan atau membentuk lekuk tubuh;
● berbahan tebal dan tidak menerawang;
● tidak berwarna mencolok yang dapat menyakiti pandangan;
● sederhana dan tidak bermegah-megahan.

3. Kaos Kaki
Merupakan pernak-pernik yang harus diperhatikan, karena bagaimanapun kaki seorang muslim termasuk ke dalam aurat sehingga harus ditutup. Kaos kaki ini biasanya terluput atau disepelekan oleh setiap muslimah padahal kedudukannya sama dengan badan kita. Sama-sama aurat. Selain itu, sependek pengetahuan saya, keseriusan seorang muslimah untuk berhijrah secara kaffah atau menyeluruh dapat diindikasikan dengan memakai kaos kaki atau tidaknya. Kenapa? Karena setidaknya kita bisa mengetahui apakah muslimah tersebut telah betul-betul mencari tahu terlebih dahulu dan ngelmu atau bagaimana? Seorang muslimah yang berniat berhijrah kemudian setelah ia mengetahui ilmu, in syaa Allaah, ia akan bersegera untuk mengaplikasikan dalam kesehariannya.

4. Manset Tangan
Seperti halnya kaos kaki, manset tangan ini juga kadang terlewatkan. Sebenarnya tidak masalah untuk tidak memakainya selama lengan pakaian kita dapat meng-cover aurat tangan kita yakni sampai pergelangan tangan kita. Kalau ternyata belum bisa, jangan lupa untuk memakai manset tangannya, ya.

5. Kerudung Dalaman
Kerudung dalaman ini biasanya merupakan kerudung instan non-pad. Tahu kan? Nah, iya, biasanya berbahan spandek atau kaos yang dapat meng-cover aurat tubuh kita. Keberadaannya sangat membantu bagi kita yang baru saja berhijrah dengan koleksi kerudung syar'i yang sedikit sekali. Karena apa? Karena ia dapat dijadikan dalaman kerudung tipis a.k.a paris yang biasanya sudah kita miliki. Sehingga tanpa didouble pun tidak apa-apa, karena tidak akan menerawang dengan keberadaan kerudung dalaman ini. Penggunaanya yang sangat praktis memudahkan kita untuk cepat dalam menata jilbab kita.

6. Al-Qur'an Saku
Berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, Al-Qur'an Saku sekarang lucu-lucu bahkan ada edisi khusus muslimahnya juga. Kalau dulu, yang namanya Al-Qur'an saku ya begitu tidak banyak pilihan baik warna maupun layout isi dan tambahannya. Eits, tapi bukan itu ya tujuannya. Bukan untuk lucu-lucuan. Keberadaan Al-Qur'an saku di tas kita sangat-sangat berguna untuk mengingatkan diri kita dengan niat baik kita, sekalipun kita tidak dalam keadaan membacanya, hanya melihatnya ketika mau mengambil ballpoint, misalnya. Selain itu, dengan keberadaannya yang selalu dapat kita akses kapan pun sangat membantu kita untuk senantiasa mengisi waktu kita dengan hal-hal yang bermanfaat. Sembari menunggu dosen masuk kita bisa bertilawah dulu, contohnya dan juga waktu-waktu lainnya, sehingga tidam ada wakti kita yang terbuang percuma.

7. Buku Tuntunan Dzikir Pagi dan Petang
Atau yang biasa disebut dengan Dzikir Al-Matsurat yaitu dzikir yang dinukil dari dzikir harian Nabi Muhammad SAW yang sahih dan dibukukan oleh Imam Hasan Albana. Terdiri dari dua macam: Sughra dan Kubra. Keduanya sama saja sebetulnya, bedanya yang Kubra ini lebih panjang sesuai namanya. Untuk pembiasaan awalan rata-rata akam memulai dari yang Sughra terlebih dahulu, baru setelah terbiasa nanti beralih ke yang Kubra. Adanya buku ini dapat mengakselerasi kita untuk memulai menghidupkan sunnah dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga sangat direkomendasikan untuk memiliki buku ini. Harganya pun sangat terjangkau. Atau, kalau yang lebih praktis yakni berupa e-book sehingga dapat disimpan dalam gadget, ya, boleh-boleh saja. Sayapun dengan senang hati mau berbagi. Versi e-book pun saya punya, bagi yang menginginkannya silahkan tinggalkan pesan di komentar, ya. In syaa Allaah nanti saya kirimkan segera.



Baca Juga : Cerita Unik Dibalik Hijrahku



Semoga sederhana.

˙˙˙

Bersegera dalam menjalankan perintah-Nya. Bergegas menggapai sempurna dalam ibadah pada-Nya. Kenapa tidak?

—esn—

Jilbabers: Label Baru Pasca Hijrahku

aku malu atas diriku yang dulu

tak menjalankan syariat-Mu, aku malu

aku malu tergoda bujuk semu

tak patuhi aturan-Mu, aku malu

aku malu pada mereka yang lebih dulu

tak bersegera setelah aku tahu, aku malu

aku malu... pada-Mu...


Alhamdulillaah, pada akhirnya dengan kemantapan yang dibisikan-Nya pada hati saya, saya memutuskan untuk berhijrah. Ya, berhijrah lahir dan bathin saya. Mentaubati dosa-dosa saya di masa lalu dan juga mengganti pakaian masa lalu saya. Benar sekali, saya mulai berpakaian yang sesuai dengan yang disyariatkan agama atau dikenal dengan berpakaian syar'i. Alhamdulillaah wa Syukurillaah.

Jangan bayangkan saya langsung beli dan punya banyak pakaian syar'i, ya. Tidak sampai seperti itu, koq. Meski pengennya sih begitu. Hehe. Tapi, ya, bagaimanapun saat itu saya hanyalah seorang mahasiswa yang hidup dengan mengandalkan beasiswa dari orang tua dan kemudian dari kampus juga sih. Jumlahnya? Ya, cukup lah untuk membayar biaya kuliah dan biaya hidup sehari-hari saya, tapi tidak cukup untuk langsung beli banyak pakaian syar'i.

Lantas, apakah saya berpakaian yang itu-itu saja? Hehe. Tentu saja tidak, saya mencoba menyiasati untuk tetap berpakaian syar'i dengan pakaian-pakain yang saya punya. Pakaian atasan saya sudah 'cukup' syar'i kebayangan berlengan panjang dan yang pendek saya tutupi dengan cardigan. Kerudung saya yang tipis saya double seperti yang sudah saya ceritakan di sini. Yang menjadi permasalahan adalah pakaian bawahan saya. FYI, saya itu dulunya tomboy sekali. Hehe. Dua. Saya hanya memiliki dua rok dalam seluruh koleksi pakaian saya. Satu rok yang dipaksa dibeli oleh Mamah dan satu rok lagi, rok hitam bekas kegiatan Masa Orientasi Kampus dulu. Sudah itu tok. Sehingga melihat kondisi ini, saya putuskan untuk membeli satu buah rok lagi. Kalau tidak salah ingat, rok pertama yang sama beli pasca hijrah itu berwarna cokelat susu, harganya empat puluh lima ribu, di beli dari toko pakaian muslimah sekitar kampus. Di jajaran pertokoan yang sama saya juga beli manset tangan dan juga kaos kaki. Alhamdulillaah, dengan keterbatasan tersebut saya masih bisa tetap syar'i dalam berpakaian keseharian seperti yang telah saya niatkan.

Saya ingat, hari pertama saya menggunakan rok dan jilbab yang lebar ke kampus, saya merasa seakan-akan semua mata tertuju padaku. Huhu. Saya malu. Bahkan, beberapa teman mulai memanggil saya dengan sebutan ukhti dan hal itu cukup kentara sekali, biasanya hanya Matahari yang mendapatkan panggilan seperti itu di kelas.

Ketika saya mulai memakai pakaian syar'i, hal tersebut memang tidak cukup banyak yang mengetahui, kecuali teman-teman kelas, tetangga kosan, orang yang berpapasan dan lingkaran pertemanan terdekat saya saja. Sampai suatu hari, sampailah berita tersebut pada teman-teman seangkatan saya hingga teman-teman waktu saya SMA. Beritanya nggak kalah fenomenal: "Si ESN sekarang sudah jadi Jilbabers", "Si ESN sekarang sudah jadi Ukhti-ukhti". Dan, semua menjadi penasaran pada penampilan saya. Wkwk. Hmmm, tahu kah? Sampai pernah ya, ceritanya, ditengah-tengah jam kuliah, hape saya terus bergetar. Ternyat eh ternyata ada orang yang sengaja menyempatkan diri untuk menelepon saya berkali-kali karena tak segera mendapat respon karena saya sedang ada kelas tadi, hingga setelah selesai kuliah dia menelepon kembali. Keperluannya apa coba? Ya, hanya untuk mengkonfirmasi apakah benar saya sudah menjadi Jilbabers dan Ukhti-ukhti? Duh. Niat sekali.

Tapi semua itu hanya terjadi di awal saja, lama kelamaan saya menjadi terbiasa dengan sendirinya. Alhamdulillaah. Ya, mungkin hal tersebut adalah ujian niat. Ujian kemantapan hati. Ujian kesungguhan. Ujian keseriusan dalam menjalankan apa yang telah diputuskan. Alhamdulillaah, kini semua itu sudah terlewati.

Semoga sederhana.

˙˙˙
Dear kamu yang sedang berniat untuk berhijrah, jangan ragu untuk melangkah. Jangan takut pada 'apa kata orang'. Jangan takut untuk menjalani apa yang kamu yakini. Selama lurus niat hijrahmu, in syaa Allaah Ia akan mempermudah setiap langkahmu. Dan, setiap manusia akam disampaikan pada apa yang ia niatkan (alhadist).

—esn—



Sabtu, 15 Oktober 2016

Jilbab Pertamaku: Tanda Baktiku Untuk Abah

Ini adalah sebuah cerita tentang jilbab syar'i pertama saya.

Saya ingat hari itu sabtu di akhir perkuliahan semester pertama. Ya, sebentar lagi saya akan genap satu semester menyandang status sebagai mahasiswa. Bangga? Ya. Bahagia, mungkin begitu lebih tepatnya, karena saat itu saya tahu bahwa masih banyak teman-teman saya yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan tinggi. Saya sangat bersyukur sekali bisa sampai di sini. Terlebih waktu itu saya juga tidak harus bersusah-susah untuk dapat masuk ke perguruan tinggi negeri seperti rekan-rekan saya yang lainnya, saya masuk lewat jalur PMDK a.k.a SNMPTN Undangan. Alhamdulillaah.

Tidak seperti biasanya, akhir pekan itu saya tidak pergi kemana-mana. Saya berdiam diri di kosan, beres-beres sambil menunggu seseorang datang. Di kemudian hari, orang ini akan menjadi orang yang berjasa karena telah mau bersusah payah menuntun dan memapah saya ke jalan ini padahal dia bisa saja berlari dan meninggalkan saya sendiri. Jalan yang saya pilih ketika kuliah adalah jalan yang katanya penuh onak dan duri dan peminatnya sedikit sekali. Ah, saya tidak mau ambil peduli, saya sudah kadung jatuh cinta, saya sudah bulat memilih untuk berada di jalan ini. In syaa Allaah.

Mari kita sebut ia Matahari. Ya, selayaknya matahari ia tidak pernah berhenti menyinari bumi, kalaupun ia harus terbenam ia hanya terbenam untuk terbit dan menyinari sisi bumi yang lain. Pun, dengan teman saya si Matahari ini. Ia selalu menyinari dengan pengetahuan yang sebenarnya sayapun sudah tahu, hanya saja selama ini saya seolah tidak mau tahu. Dengan sabar ia terus menunjukkan kepada saya bagaimana menerapkan pengetahuan itu dalam perihidup keseharianku. Pengetahuan yang saya maksudkan di sini adalah ini: "... hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka... (Al-Ahzaab:59)". Betul, mengenai perintah untuk berjilbab yang sesuai dengan syariat-Nya. Dan, betul, waktu itu saya baru sebatas tahu akan keharusan menutup aurat secara sempurna sebagaimana yang diajarkan oleh ustadz dalam ceramahnya (yang seringnya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. hihi) juga kata guru agama di sekolah saya dulu. Berbeda dengan temanku si Matahari itu, selain ia tahu ia pun melaksanakannya juga, konon katanya semenjak ia sekolah menengah pertama ia telah berjilbab sesuai syariat-Nya. Luar biasa!

Menunggu bagi saya adalah hal yang membosankan, ya, sama seperti yang dirasakan orang-orang kebanyakan. Pagi itu saya hampir saja ketiduran. Jika saja dalam hitungan lima menit ia tak juga datang, mungkin saya tidak akan seperti sekarang. Wallahu'alam. Untungnya, sebelum saya benar-benar tertidur, saya mendengar seseorang mengetuk pintu kosan saya. Seseorang yang saya tunggu. Ya, si Matahari itu, akhirnya ia tiba juga. Ia adalah seorang plegmatis-sanguinis dan senyumnya, tentu saja manis. Dengan senyum yang telah terpasang manis di wajahnya ia mengucapkan salam dan dengan tanpa dosa sama sekali, dengan leluasa ia memasuki daerah kekuasaanku. Tak tahu kah kau telah membuatku lama menunggu? Batinku. Dan, seperti biasa, dia mulai menyalakan laptop-nya kemudian memutar lagu-lagu haraki kesukaannya: "Aaa... Ini langkahku... aaaa... terus melaju... Ini langkahku yang kan kuayun... Walaupun payah tak akan jera..." Karena sebenarnya agenda kami waktu itu adalah mengerjakan tugas UAS, jadi biar tambah semangat mengerjakannya ceritanya.

Namun, entah bagaimana cerita detailnya hari itu agenda kebersamaan kami berubah begitu saja. Setelah melihat tugas UAS yang .... ah sudahlah. Kami merasa bosan, apalagi waktu itu masih banyak yang harus kami selesaikan. Akhirnya, kami terlibat perbincangan yang menurut saya seru, ya, obrolan ringan selalu menghadirkan keseruan. Obrolan kami kala itu adalah tentang akang teteh pengurus organisasi di mesjid yang kinyis-kinyis dan lembut-lembut itu. Astagfirullaah, ampuni kami ya Allaah. Semoga tidak termasuk ghibah karena niat kami mencari ibrah. Hingga sampai pada saya berkata: "aku seneng ih liat si teteh itu, adem gitu, tapi kerudungnya itu keleber-keleber gitu apa nggak gerah ya?"

alih-alih menimpali si Matahari cuma ketawa khas-nya yang tidak bisa saya tirukan di sini. "Ya udah kamu coba aja beb!" Katanya kemudian.

"Haha. Kamu mah bisa wae bercandanya!" Jawab saya sekenanya.

"Ih, beneran ini mah. Serius." Katanya lagi.

"Haha. Mending aku dong, duarius!" Yang diam-diam mulai penasaran. "Lagian mana bisa, kerudungnya aku pendek-pendek semua mereun.." lanjut saya.

"Bisa, Bisa. Didouble aja." Katanya mantap.

Entah, bagaimana, perlahan tapi pasti kami mulai menuji tempat penyimpanan kerudung-kerudung itu. Ah, mungkin di sana ada hidayah Allaah mungkin ya <3



Akhirnya kami mengambil beberapa kerudung tipis a.k.a paris yang terdapat di gantungan khusus kerudung tersebut dan kami mulai memadu-padankan mana yang sekiranya cocok untuk dijadikan dalaman dan luaran. Kalau tidak salah ingat, waktu itu kerudung warna peach dijadikan luaran dan kerudung warna cokelat susu yang agak tebal dijadikan dalaman. Setelah dipadankan dan dirapihkan sempurna sehingga tidak terlihat dua, jilbab itu dipasangkan pada kepala-wajah saya, saya dibantunya untuk menancapkan jarum dan dirapihkan bagian belakangnya. Setelah dirasa rapi, ia meminta saya untuk berkaca. Dalam kaca, saya melihat sesosok perempuan yang berbeda, jilbab membalut tubuhnya dengan sempurna. Aku terpana.

"Bagus beb, cantik!" Komentarnya.

Dan, entah, ada perasaan nyaman yang menyeruak dalam dada. Semacam merasa aman dan terjaga. Oh, beginikah rasanya? Inikah indahnya hidayah? Oh, ya Allaah saya belum siap. Saat itu saya masih merasa belum pantas. Tapi saya berpikir sambil terua berkaca diri, kalau bukan sekarang kapan lagi? Kalau dinanti-nanti, nanti bisa jadi keburu mati. Naudzubillaah. Semenjak itu, saya mulai mencoba menata hati, meyakinkan diri sendiri, meniatkan dalam hati untuk mulai berjilbab rapi. Menjemput hidayah-Nya, menjemput ridho-Nya. Dan, mencoba berbakti kepada orang tua dengan cara yang berbeda. Ya, saya ingin membaktikan diri untuk kedua orang tua karena sampai sebesar itu saya belum bisa memberikan apa-apa pada mereka. Hiks.

Saya ingat, mentor saya pernah bilang salah satu cara berbakti dan membahagiakan orang tua adalah dengan berjilbab sesuai syariat.
Kemudian teman mentoring saya waktu itu ada yang menyela, ia belum siap, katanya, ia mau terlebih dahulu menjilbabi hatinya dengan rapi.
Sambil tersenyum mentor saya bilang, menjilbabi diri dan menjilbabi hati itu bukan hal yang berurutan, keduanya perlu dilaksanakan.
Menjilbabi diri secara syar'i adalah keharusan, kepatuhan setiap muslimah terhadap apa yang diperintahkan Tuhan dan menjilbabi hati tidak bisa instan, ia akan terus berproses seiring zaman, kalau mau terus nunggu sampai hatinya 'terjilbabi', apa ada garansi saat itu kita masih ada di dunia ini? Sementara itu, dosa-dosa kita terus bertambah dari hari ke hari karena kelalaian kita dalam menutup aurat yang tidak sesuai syariat. Dosa yang sama yang juga menjadi tabungan dosa ayah dan ibu kita karena kita sebagai anak perempuannya, masih dalam tanggung jawabnya.

"Apa iya, mau terus begitu?" Pertanyaan retoris mentorku.

"Kenapa tidak menjilbabi diri sembari terus menjilbabi hati? Bukankah itu lebih bijaksana?" Pungkasnya dengan senyum yang membuatnya semakin anggun.

Ah, mengingat kata-kata itu saya menjadi semakin bersemangat. Tekad saya sudah membulat. Saya mau berjilbab syar'i, sesuai syariat-Nya. Saya mau berbakti pada Abah yang selama ini berpeluh lelah agar mampu membiayai aku sekolah.

Akan ada seribu jalan bagi orang yang punya keinginan. Dan akan ada seribu alasan bagi orang yang tak berkeinginan.

Semoga Sederhana.

˙˙˙
Melalui tulisan ini saya ingin sekali berterima kasih pada semua pihak yang berjasa menjadikan saya seperti sekarang ini: orang tua saya, guru-guru saya, mentor-mentor saya, teman-sahabat saya dan tentu saja kamu, Matahariku. Uhibbukum fillaah! <3

—esn—