Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Oktober 2016

Menunggu Itu Menyenangkan: Agar Menunggu Tak Hanya Sekedar Menghabiskan Waktu #2

Nah, saya lanjutkan ya.. yang baru baca tulisan ini, baca dulu tulisan sebelumnya ya, di sini.

Okay, lanjut.

Kedua, pencerahan yang saya dapatkan adalah SANTAI SAJA! JANGAN TAKUT.
Usia yang tidak bisa di-rem pertambahannya membuat kegelisahan tersendiri dalam jiwa dan membuat saya semakin tidak ada kerjaan pandai menghitung waktu. Ada semburat rasa ketakutan yang tercipta, bukan hanya menyoal waktu saja sebenarnya, tapi ketakutan lainnya yang serupa. Apa kamu merasakannya juga?

Sampai akhirnya saya teringat bahwa Allaah sudah menetapkan rezeki, azal, amal serta nasib baik dan buruk dari seorang hamba semenjak ia berada dalam kandungan ibunya. Dalam usia 120 hari kehidupannya di alam rahim ibunya. Ya, jodoh adalah bagian dari rezeki kita. Sebagaimana rezeki, kedatangannya sudah pasti dan setiap orang sudah memiliki jatahnya sendiri-sendiri, tidak akan pernah menjadi milik orang lain apa yang sudah Allaah rezekikan kepada kita.

Jadi, tenang saja, jangan takut rezeki—jodoh kita dipatok tetangga #eh. Santai saja, semua akan dipertemukan-Nya tepat pada waktunya.

keep calm and moving forward

Ketiga, pencerahan yang saya dapatkan adalah adalah LAKUKAN HAL-HAL PRODUKTIF.
Ya, saya tahu menunggu memang bisa membuat kita se-galau itu, sampai-sampai kita lupa mau berbuat apa selain pasang status galau di medsos. Iya, dulu saya suka gitu deh, bingung sendiri gitu mau ngapain. Huhu.

Hingga akhirnya saya mulai mencari-cari ide untuk mengalihkan perhatian saya. Ceritanya waktu itu saya sedang menunggu kepastian dari seseorang. Uhuk. Waktu itu, saya ada kekhawatiran tidak dapat menjadi menantu yang baik, tidak dapat diterima dengan baik oleh keluarganya. Hehe. Sudah ketakutan pleus ke-ge-er-an duluan, ya? *tutup muka* Etapi karena saya sadar diri juga sih, soalnya saya menyadari bahwa skill hidup yang saya miliki masih cetek sekali. Waktu itu, saya kepikirannya untuk kursus masak dan kursus menjahit. Ya, walaupun belum sempat saya lakukan sih, karena saya keburu pindah dan kabarnya kata guru ngaji saya, proses saya dengan dirinya belum dapat dilanjutkan karena keluarganya yang memberi restu untuk menikah dalam waktu dekat. Tuh kan! *pukpukin diri sendiri* Hehe. It's okay, tidak apa-apa, tandanya ia bukan rezeki saya.

Nah, dengan melakukan hal-hal yang produktif inilah, selain waktu menunggu kita menjadi lebih menyenangkan, kita juga mendapatkan keuntungan: berupa keterampilan hidup untuk masa depan. Asyik, bukan? :)

Keempat, pencerahan yang saya dapat adalah AMANKAN AKHIR PEKANMU.
Ya, di sana ada yang namanya malam minggu yang entah kenapa disebut malam yang panjang. Ada yang tahu kenapa? Hmmm. Sependek pengamatan saya, kalau malam minggu tiba, mendadak jadi banyak pengemis cinta di beranda media sosial saya. Kata-kata saya jahat ya? Biarin, abisnya waktu itu saya suka KZL. Ingin rasanya bilang ke mereka, biarpun memang masih menunggu please atuhlah jangan sampai seperti itu, tetap jaga harga dirimu. Tapi, ya, saya tidak bisa berlaku seperti itu juga karena mau update apapun itu kan hak mereka.

Dari sana saya selalu menghindari untuk aktif di media sosial apalagi kalau malam minggu begitu. Karena saya tahu, kalau kita terus 'dijejali' status-status begitu, pikiran kita bisa ter-influence juga lama-lama. Mulailah saya mencoba mengamankan akhir pekan saya. Selain dengan mulai bijak dalam bersosial media. Akhir pekanpun harus terisi dengan aktivitas lainnya agar semua aman terkendali. Waktu itu saya gunakan akhir pekan saya untuk pengajian dan berencana untuk membina anak jalanan juga, sudah sempat bicara sama teman yang berkiprah di sana juga, namun Qadarullaah belum terlaksana. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya keburu pindahan. Nah, kalau kamu mau mengamankan akhir pekanmu seperti apa? :)

Terakhir, pencerahan yang saya dapatkan dan merupakan yang paling ampuh adalah JAGA INTERAKSIMU DENGAN ALLAAH SWT.
Ya, selain harus menjaga interaksi dengan lawan jenis, kita juga harus menjaga interaksi kita dengan Sang Pencipta. Karena apa? Karena kamu tahu sendiri lah ya, dalam menunggu itu banyak sekali ujian dan cobaan, iya kan? Dari mulai banyak yang pe-de-ka-te lah, yang tepe-tepe cuma pe-ha-pe lah, mulai banyak yang perhatian dengan nanya ka-pan-ni-kah lah dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Nah, kondisi itu sangat bahaya bagi jiwa yang rapuh karena terlalu lama menunggunya #eeaak #lebay. Kita harus memiliki sandaran yang kokoh untuk berlabuh, memiliki tempat untuk menumpahkan segala keluh.  Dan Allaah SWT adalah sebaik-baiknya sandaran itu, tempat itu. Cukuplah Allaah SWT yang mengetahui jerit suara hati segala kondisi kita dan berharaplah selalu pada-Nya agar menunjukkan yang terbaik bagi kita. Dengan terjaganya interaksi kita dengan-Nya, in syaa Allaah, semua akan lebih ringan dan hari-hari kita berjalan dengan riang gembira, tentunya waktu kita tidak habis percuma.

Sudah, mungkin cukup itu saja yang dapat saya bagi. Mudah-mudahan dapat menginspirasi.

Baca juga : Menunggu Reda

Oiya, jangan lupa untuk banyak melangitkan do'a pada-Nya ya, bermunajat pada Allaah SWT di sepertiga malam, minta agar Ia menunjukkan jalannya, karena bisa jadi sebetulnya ia sudah dalam perjalanan mengikhtiarkanmu tapi kesasar melulu dalam usahanya menemukanmu. Hehe.

Semoga sederhana.

˙˙˙
Menunggu hanyalah soal bagaimana kita mempolitisasi waktu.

Siapkah kamu untuk menunggu dengan lebih menyenangkan dan tak sekedar menghabiskan waktu dengan caramu? :)

—esn—

Selasa, 18 Oktober 2016

Amanah Yang Berat Membuat Kita Semakin Erat

Apakah saya pernah bilang bahwa amanah akan terus mengejar sekeras apapun usaha kita untuk menghindar? Bila belum, maka saya katakan itu sekarang. Ketika memang kita sudah digariskan-Nya untuk menanggung sebuah amanah, sekeras apapun kita berusaha menghindar, ia akan terus mengejar. Karena apa? Karena amanah tidak akan pernah salah memilih pundak, begitu katanya.

Tapi sungguh amanah itu tidak mudah. Tidak akan dapat kita menanggungnya kecuali dengan berjamaah. Berkolaborasi bersama-sama, bahu membahu hingga tuntas setuntas-tuntasnya. Alhamdulillaah, Allaah SWT tidak membiarkan saya sendirian. Mereka Allaah SWT kirimkan sehingga amanahpun dapat lekas tertunaikan.

Tercatat di akhir tahun 2012, perkenalan pertama saya dengan kebanyakan dari mereka karena ada salah satu dari mereka yang telah saya kenal sebelumnya. Bersama mereka saya menghabiskan banyak waktu bersama sepanjang tahun 2013 dan setelahnya. Kami berbeda jurusan meskipun masih satu angkatan. Tak pernah dipercayakan dalam amanah yang sama juga sebelum-sebelumnya. Kepengurusan kami di tahun 2013 adalah untuk pertama kalinya kami berada dalam garis perjuangan yang sama.

tujuh serangkai yang semoga menjadi ca.bi.syur.
Semakin hari kami merasa amanah kami semakin berat. Tekanan yang kami rasakan semakin kuat. Tapi siapa sangka, semua itu membuat ukhuwah kami semakin erat. Membuat masing-masing kami semakin lekat. Hingga kadang kami harus saling berbagi cokelat. Betulan. Tekanan yang kami hadapi kadang membuat kami ini membutuhkan sesuatu untuk merilekskan diri, dan pilihan kami jatuh pada ini: es krim dan cokelat.

Sekali lagi, amanah yang berat dan waktu yang singkat menjadikan kami semakin erat. Banyak hal yang berkaitan dengan organisasi tak mampu kami selesaikan di sekretariat karena waktu yang singkat. Akhirnya mau tidak mau kami 'bekal' ke kosan, kemudian kami bahu membahu untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Bergadang bersama, bahkan kadang kami kerjakan semalaman dan hanya tidur secara berganti-gantian. Ah, sungguh sebuah kenangan yang tak terlupakan.

Bersama mereka saya belajar mendewasa, meredam ego diri untuk kepentingan bersama. Belajar banyak mendengar tanpa merasa diri yang paling benar. Belajar banyak bersabar dan bersyukur benar-benar. Amanah yang berat membuat kami menjadi semakin erat. Berbagi beban, bersama-sama bertahan. Berbagi lelah, berharap agar tetap Lillah. Berbagi airmata, hingga sampai di penghujungnya.

Saat engkau merasa amanah di pundakmu semakin berat, berbagilah. Amanah yang berat akan membuat ukhuwahmu semakin erat. In syaa Allaah.

Semoga sederhana.

˙˙˙

Kawan, perjalanan ini tidak ringan, tapi bersama kalian saya merasa tidak terlalu beban.

Kawan, perjalanan ini sungguhlah berat, tapi bersama kalian saya merasa tetap bersemangat.

Kawan, perjalanan ini sungguh tak mudah, tapi bersama kalian saya menjadi memiliki memori indah.

Kawan, perjalanan ini sungguh sangat melelahkan, tapi bersama kalian aku sanggup untuk bertahan.

Kawan, terimakasih sudah menguatkan, terimakasih atas setiap kebersamaan, terima kasih atas bala bantuanmu itu, kawan.

Kalian adalah ingatan yang merekam sepenggal kisah perjalanan. Kalian adalah memori yang merekam metamorfosis diri. Kalian adalah abadi yang kehadirannya sama-sama kita syukuri. Kalian adalah harapan semoga di masa depan kita kembali dibersamakan.

—esn—

Minggu, 16 Oktober 2016

Goresan Perempuan: Menunggu Reda

gambar diambil dari google dengan sedikit perubahan

Saat orang-orang memilih berlarian hujan-hujanan sehingga dapat segera sampai tujuan. Aku, memilih duduk, mengambil nafas sambil sesekali menengadah ke angkasa. Menunggu reda.

Menunggu reda. 

Banyak orang yang bilang menunggu itu membosankan. Apalagi ketika dilakukan sendirian. Tapi bagiku, menunggu itu sering juga mengasyikan. 

Banyak yang dapat kita lakukan selama menunggu, kan? Mengamati orang-orang berlaku, misalnya. Atau seperti aku, dengan membuat tulisan.

Ah, aku menjadi teringat akan percakapan singkat dengan seorang kakak tingkat. Percakapan yang pada akhirnya dia menyarankanku untuk mengikhtiarkanmu. Ya, kamu, yang, entahlah, aku sendiripun tak tahu. "Menunggu di rumah dengan memperbanyak do'a adalah ikhtiarnya seorang perempuan" responku kala itu. Dan memang betul begitu. Setidaknya, itulah yang selama ini aku lakukan: Menunggumu.

Menunggumu sama seperti menunggu hujan reda. Perlu percaya bahwa hujan betul-betul akan reda. Perlu percaya bahwa kamu akan betul-betul datang jika telah tepat waktunya. Bahkan, bukan hanya sekedar percaya. Tetapi juga perlu mempercayakan. Mempercayakan semua pada-Nya, Yang maha mengatur segalanya tentang kita. Sampai saat ini aku masih percaya dan akan terus percaya, mempercayakan semua pada-Nya.

Sepenuhnya, akupun menyadari bahwa menunggumu sama seperti menunggu reda. Membutuhkan jeda waktu yang entah berapa lama. Sambil menunggu waktunya tiba, kita bisa bersiap diri. Menyelesaikan urusan dengan diri kita sendiri. Hingga saat kita bertemu nanti, kita sudah sama-sama selesai dengan diri kita masing-masing. Asyik, kan?

Dalam menunggu reda badai bisa saja datang tiba-tiba. Jangan lupa untuk terus berjaga-jaga. Kuatkan pegangan. Jangan sampai hilang pijakan. Tetaplah bertahan hingga badai sirna kemudian berganti reda.

Menunggu reda.

Hujan akan berhenti juga pada akhirnya. Tenanglah, jangan tergesa-gesa. Bersenanglah menikmati seluruh prosesnya. Bersabarlah mengikuti semua alurnya.

Bersiaplah, sebentar lagi hujan akan reda.


Bogor, 11 November 2015
Ditulis dengan sedikit cemas saat takut hujan tak kunjung reda.

˙˙˙
Semoga sederhana.

Semoga dapat dicerna.

—esn—

Goresan Perempuan: Jangan Salah


Jangan salah. Jangan salahkan siapapun ketika ada satu atau bahkan beberapa peristiwa yang terjadi di luar kehendakmu. Alih-alih menemukan solusi malah sibuk ke sana ke mari mencari pihak untuk dipersalahi sampai lupa untuk berkaca diri, berintrospeksi diri. Hati-hati dengan sikap diri.
Jangan salah. Bisa saja apa yang terjadi dalam hidupmu —yang kejadiannya tak pernah kamu inginkan itu— adalah salah satu bentuk cinta-Nya padamu. Perpisahan yang terjadi sebelum pertemuan, misalnya. Mungkin memang tidak mengenakan. Tapi, tahu kah? Mungkin itu adalah bentuk penjagaan-Nya padamu biar kamu tidak merasakan keburukan-keburukan akibat pertemuan tersebut. Bisa saja, kan?
Jangan salah. Kata seorang teman, ada jenis teman yang semakin hari semakin erat memeluk kita, bukan karena takut kehilangan kita, tapi biar pisau itu bisa ia tusukkan tepat di perut kita dan menancap dalam sempurna. Bisa saja. Tapi, jangan salah, sebisanya hindari prasangka karena sebagian besarnya adalah dosa.
Jangan salah. Tidak selamanya yang berjauhan berarti bermusuhan. Ada yang sengaja berusaha menjauh agar segalanya menjadi tetap utuh bukan untuk menjadi musuh. Kita tidak pernah tahu kan seberapa besar energi yang dikeluarkannya untuk menjalani usahanya: memendam perasaan, menjaga jarak agar tetap aman? Bahkan, matahari juga menjaga bumi dari jarak yang jauh, kan?
Jangan salah. Jangan salah sangka. Jangan salahkan siapa-siapa. Jangan. Jangan pernah.
Jangan pernah menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan takdir atas segala yang terjadi padamu.
Jangan salah. Jangan mudah mempersalahkan. Jangan suka mencari-cari kesalahan. Jangan. Jangan pernah.
Jangan pernah mencari kesalahan kecuali untuk diambil darinya sebuah hikmah dan pembelajaran.
Jangan. Jangan salah. Jangan salah arah. Jangan sampai salah langkah.
Hidup kita hanya sekali, setelah itu lalu kita mati. Jangan sekali-kali dibuat tidak berarti.
p.s. jangan lupa besok pilkada, jangan sampai salah pilih, ya! :)
Rumah, 08 Desember 2015
Ditulis saat hari hujan, sedari pagi hingga sore.
˙˙˙
Tulisan saya di penghujung tahun lalu, begitu banyak yang saya pertanyakan waktu itu, hingga terbesit rasa ingin menyalahkan keadaan dan siapa saja yang dapat dipersalahkan. Apa kamu juga pernah merasakan?
Semoga sederhana.
Semoga dapat dicerna.
—esn—

Pernak Pernik Hijrah Bagi Muslimah

Alhamdulillaah. Akhirnya saya bisa berbagi juga dengan akhawat/ukhti/mbak/adik sekalian mengenai pernak-pernik hijrah yang akan semakin memudahkan dan mengokohkan kita dalam berhijrah. In syaa Allaah. Nah, apa saja kah? Baik, sebelum kita bahas satu per satu, saya terlebih dahulu ingin menegaskan, ya, bahwasannya tidak semua pernak-pernik di sini harus a.k.a mutlak adanya. Pernak-pernik ini hanyalah sarana yang akan mengakselerasi proses hijrah kita. Ya, hijrah memang membutuhkan proses yang tidak cepat bahkan ia berproses terus sepanjang hayat. Sama, saya pun masih berproses juga, masih jauh dari hijrah yang sempurna.

Nah, kenapa tadi saya bilang bahwa dengan adanya pernak-pernik ini proses hijrah kita dapat terakselerasi? Karena eh karena, keberadaan pernak-pernik ini akan sangat membantu kita untuk berpenampilan yang sesuai dengan syariat-Nya dan tentunya juga, diikuti dengan pembiasaan untuk melakukan amalan-amalan keseharian yang lebih baik dan lebih meningkat lagi dari yang sebelum-sebelumnya dilaksanakan. In syaa Allaah.

Baiklah, tanpa ber-panjang kali lebar kali tinggi yang hasilnya akan jauh sekali. Hehe. Berikut ini adalah beberapa pernak-pernik hijrah yang disarankan kepemilikannya untuk muslimah semua.

gambar diambil dari google yang kemudian saya edit dan satukan.


1. Jilbab Syar'i
Ya, jilbab atau kerudung atau khimar atai tudung baik itu yang segiempat, segitiga maupun yang instan a.k.a bergo yang syar'i menjadi pernak-pernik utama yang harus diperhatikan oleh muslimah sekalian. Mengapa? Karena ketika memutuskan berhijrah, artinya kita ingin dan bersedia untuk berperihidup sesui dengan yang disyariatkan-Nya. Bukan begitu? Namun, bukan berarti harus memaksakan diri membeli jilbab-jilbab yang berlabel syar'i dengan harganya melangit itu ya. Memaksakan diri itu tidak baik, kecuali jika memang memiliki kemampuan, silahkan. Berjilbab syar'i masih dapat dilakukan dengan jilbab-jilbab tanpa label syar'i yang sebelumnya sudah kita miliki koq selama masih memenuhi kriteria jilbab syar'i itu sendiri. Baiklah, mari saya coba ingatkan kembali ya beberapa kriteria jilbab yang dapat dikatakan syar'i, apabila:
● menutupi kepala hingga dada, berbahan tebal dan tidak menerawang;
● tidak memperlihatkan ikatan rambut hingga menyerupai punuk unta;
● terhulur sempurna bukan seperti dililit; dan
● dipakai dengan niat untuk menutup aurat bukan untuk bermegah-megahan.



Baca Juga : Jilbabers: Label Pertama Pasca Hijrahku



2. Pakaian Syar'i
Selanjutnya yang tidak kalah utama adalah memiliki pakaian syar'i. Pun sama seperti jilbab syar'i tadi, ya. Untuk pembelian pakaian syar'i tidak boleh memaksakan diri toh bisa jadi pakaian yang kita miliki dan gunakan sehari-hari pun telah memiliki nilai-nilai yang sesuai dengan yang disyariatkan. Iya kan? Nah, yuk kita coba mengulang kembali, ya, apa saja sih yang menjadi kriteria pakaian syar'i itu?
● dapat berupa pakaian potongan (atasan dan bawahan) atau gamis a.k.a dress panjang berlengan panjang;
● longgar dan tidak memperlihatkan atau membentuk lekuk tubuh;
● berbahan tebal dan tidak menerawang;
● tidak berwarna mencolok yang dapat menyakiti pandangan;
● sederhana dan tidak bermegah-megahan.

3. Kaos Kaki
Merupakan pernak-pernik yang harus diperhatikan, karena bagaimanapun kaki seorang muslim termasuk ke dalam aurat sehingga harus ditutup. Kaos kaki ini biasanya terluput atau disepelekan oleh setiap muslimah padahal kedudukannya sama dengan badan kita. Sama-sama aurat. Selain itu, sependek pengetahuan saya, keseriusan seorang muslimah untuk berhijrah secara kaffah atau menyeluruh dapat diindikasikan dengan memakai kaos kaki atau tidaknya. Kenapa? Karena setidaknya kita bisa mengetahui apakah muslimah tersebut telah betul-betul mencari tahu terlebih dahulu dan ngelmu atau bagaimana? Seorang muslimah yang berniat berhijrah kemudian setelah ia mengetahui ilmu, in syaa Allaah, ia akan bersegera untuk mengaplikasikan dalam kesehariannya.

4. Manset Tangan
Seperti halnya kaos kaki, manset tangan ini juga kadang terlewatkan. Sebenarnya tidak masalah untuk tidak memakainya selama lengan pakaian kita dapat meng-cover aurat tangan kita yakni sampai pergelangan tangan kita. Kalau ternyata belum bisa, jangan lupa untuk memakai manset tangannya, ya.

5. Kerudung Dalaman
Kerudung dalaman ini biasanya merupakan kerudung instan non-pad. Tahu kan? Nah, iya, biasanya berbahan spandek atau kaos yang dapat meng-cover aurat tubuh kita. Keberadaannya sangat membantu bagi kita yang baru saja berhijrah dengan koleksi kerudung syar'i yang sedikit sekali. Karena apa? Karena ia dapat dijadikan dalaman kerudung tipis a.k.a paris yang biasanya sudah kita miliki. Sehingga tanpa didouble pun tidak apa-apa, karena tidak akan menerawang dengan keberadaan kerudung dalaman ini. Penggunaanya yang sangat praktis memudahkan kita untuk cepat dalam menata jilbab kita.

6. Al-Qur'an Saku
Berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, Al-Qur'an Saku sekarang lucu-lucu bahkan ada edisi khusus muslimahnya juga. Kalau dulu, yang namanya Al-Qur'an saku ya begitu tidak banyak pilihan baik warna maupun layout isi dan tambahannya. Eits, tapi bukan itu ya tujuannya. Bukan untuk lucu-lucuan. Keberadaan Al-Qur'an saku di tas kita sangat-sangat berguna untuk mengingatkan diri kita dengan niat baik kita, sekalipun kita tidak dalam keadaan membacanya, hanya melihatnya ketika mau mengambil ballpoint, misalnya. Selain itu, dengan keberadaannya yang selalu dapat kita akses kapan pun sangat membantu kita untuk senantiasa mengisi waktu kita dengan hal-hal yang bermanfaat. Sembari menunggu dosen masuk kita bisa bertilawah dulu, contohnya dan juga waktu-waktu lainnya, sehingga tidam ada wakti kita yang terbuang percuma.

7. Buku Tuntunan Dzikir Pagi dan Petang
Atau yang biasa disebut dengan Dzikir Al-Matsurat yaitu dzikir yang dinukil dari dzikir harian Nabi Muhammad SAW yang sahih dan dibukukan oleh Imam Hasan Albana. Terdiri dari dua macam: Sughra dan Kubra. Keduanya sama saja sebetulnya, bedanya yang Kubra ini lebih panjang sesuai namanya. Untuk pembiasaan awalan rata-rata akam memulai dari yang Sughra terlebih dahulu, baru setelah terbiasa nanti beralih ke yang Kubra. Adanya buku ini dapat mengakselerasi kita untuk memulai menghidupkan sunnah dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga sangat direkomendasikan untuk memiliki buku ini. Harganya pun sangat terjangkau. Atau, kalau yang lebih praktis yakni berupa e-book sehingga dapat disimpan dalam gadget, ya, boleh-boleh saja. Sayapun dengan senang hati mau berbagi. Versi e-book pun saya punya, bagi yang menginginkannya silahkan tinggalkan pesan di komentar, ya. In syaa Allaah nanti saya kirimkan segera.



Baca Juga : Cerita Unik Dibalik Hijrahku



Semoga sederhana.

˙˙˙

Bersegera dalam menjalankan perintah-Nya. Bergegas menggapai sempurna dalam ibadah pada-Nya. Kenapa tidak?

—esn—

Cerita Unik di Balik Hijrahku

Masih seputar cerita hijrah saya. Kali ini saya ingin berbagi mengenai cerita unk di balik proses hijrah saya yang banyak orang tak mengiranya. Ya, banyak orang tak mengira bahwa saya akan berhijrah secepat itu. Pun, tak banyak memang, yang mengetahui bagaimana dilematika yang bergejolak di dalam jiwa dan konflik bathin yang saya alami berkaitan dengan niatan saya untuk berhijrah. Tanpa ada angin-hujan-badai, tahu-tahu saja saya sudah berhijrah. Hehe.

Termasuk orang tua saya. Ya, mereka tidak mengetahui bahwa saya sedang berprosea untuk berhijrah. Selain takutnya mereka menjadi berpikir yang aneh-aneh, semenjak kuliah saya mulai berusaha untuk menyelesaikan segala persoalan hidup saya sendiri, ceritanya mau belajar mandiri. Setelah memutuskan berhijrah, seminggu kemudian saya pulang ke rumah dengan membawa beberapa tas jingjingan. Isinya? Semua celana jeans saya. Ya, semuanya termasuk celana-celana yang baru saya beli ketika masuk kuliah waktu itu, saya bungkus semua untuk dibawa pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ekspresi orang rumah tentu saja terheran-heran dengan 'perubahan tampilan' saya. Namun, mamah yang kala itu menyambut saya lebih sigap menyuruh saya beristirahat ketimbang bertanya mengenai perubahan tersebut, meski terlihat dari tatapannya yang mempertanyakan. Saya pun memilih mengistirahatkan diri daripada memberikan penjelasan atas pertanyaan yang tak terungkapkan. Hehe.

Besoknya, pagi-pagi saya langsung menyerahkan barang bawaan saya ke mamah dan dengan polos tanpa dosa bilang—yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bunyinya—begini: "Mah, tolong ini dibagikan saja ke saudara atau tetangga.."
Mamah sontak membuka bungkusan tersebut, setelah terbuka diketahui bahwa isinya adalah baju-baju yang 'kekecilan' dan seluruh celana jeans yang saya bawa ke Bandung. Reaksi Mamah? Susah menggambarkannya. Tapi kemudian "Loh, ini kan masih baru, baru kamu beli kemarin pas mau kuliah. Emang kenapa mau dikasih-kasih?" Tanyanya. "Iya, sekarang aku sudah tidak mau pakai itu lagi. Mau pakai rok saja. Doakan ya." Jawabku mantap. Mamah? Masih terheran-heran dengan tingkah ajaibku. Ya, bagaimana tidak ajaib, dulu disuruh pakai rok itu susahnya minta ampun, disuruh beli pun malah memilih tak beli pakaian daripada harus beli rok. Kurang ajaib apa? Dan, lucunya ya, dikemudian hari diketahui bahwa ternyata Mamah belum juga membagikan pakaian-pakaian tersebut, Mamah takut aku hanya 'berubah sementara', Mamah memilih menyimpannya dengan rapih dan baru kemudian membagikannya setelah yakin bahwa anaknya telah 'berubah permanen' setelah melihat saya beberapa bulan tersebut istiqamah memakai pakaian syar'i. Alhamdulillaah.

gambar diambil dari google, berhubung koleksi jeans saya entah sudah dimana. Hehe.


Hmmm.. di atas sudah saya katakan bahwa saya ingin belajar hidup mandiri, kan? Nah, Frasa ini: Hidup Mandiri, saya dapatkan setelah saya mengikuti training motivasi dari seorang motivator nasional kalau tidak salah, yang diadakan pada kegiatan Tutorial, lagi-lagi Tutorial. Jadi, begini cerita awalnya, dalam training tersebut sang motivator menjelaskan perjalanan hidup dan targetannya ketika kuliah. Salah satunya adalah mandiri secara finansial ketika semester empat kuliah, maka, mulailah ia berjualan apa saja yang bisa dijual dan tak mengganggu perkuliahannya. Ia menyampaikannya dengan heroik sekali, saya termotivasi untuk mengikuti. Kemudian ia menantang, siapa yang berani saat itu juga untuk menelepon orang tua dan bilang tak usah lagi dikirimi uang bulan karena mau belajar mandiri secara penghasilan. Dan, ternyata ada yang berani saudara-saudara. Ikhwan dari baris depan. Wih, keren lah. Saya? Masih pikir-pikir. Hehe.

Hari berlalu, dan saya masih bergulat dengan pikiran: "saya jualan apa, ya?" Sampai suatu hari saya membawa bekal nasi kuning ke kelas dan ternyata teman-teman pada nyicip dan menurut mereka enak. Aha! Saya dapat inspirasi juga. Akhirnya saya membuat list pemesan yang tak lain teman-teman kelas sendiri dan mulai berjualan nasi kuning dan nasi uduk sesuai pesanan.

gambar diambil dari google. beginilah kurang lebih tampilan nasi kuning jualan saya dulu, sayang, dulu tak sempat mengabadikannya. Huhu.


Uniknya, setelah sehari berjualan nasi dan belum sempat menghitung keuntungan yang didapatkan—waktu itu saya mengambil keuntungan lima ratus rupiah saja per porsi. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, sebelum berangkat ke kampus, saya sudah menelepon orang tua. Tujuannya? Tentu saja, dengan bangga dan penuh percaya diri bilang: "Mah, Tak usah kirimi saya uang bulanan lagi, saya bisa belajar mandiri. Assalamualaikum." Klik. Telepon saya langsung tutup tanpa mendengar komentar yang ditelepon di sana. Maklum, jiwa saya masih berapi-api setelah disiram bensin motivasi tempo hari lalu. Hehe.

Hasilnya? Alhamdulillaah, saya berjualan nasi kuning dan uduk dan berhasil bertahan selama satu pekan dan bubar jalan di pekan selanjutnya karena saya kurang sabar. Hehe. Hingga ujung-ujungnya tetap saja mengandalkan subsidi orang tua untuk pembiayaan hidup saya. Baiklah, misi hidup mandiri di awal hijrah saya belum gagal total. Hehe. Tapi tidak apa, dari sana saya belajar bahwa memang tidak ada yang instan dalam hidup ini. Termasuk mie instan yang jadi teman setia saya waktu zaman jadi anak kosanpun sebenarnya tidak instan, karena ia tidak masak begitu saja, kita perlu terlebih dahulu menyiapkan air manas, mangkuk, sendok dan garpu sehingga ia bisa sampai ke mulut kemudian perut kita.

Semoga sederhana.

˙˙˙

Setiap orang punya cerita hijrahnya masing-masing, punya tantangan yang harus ditaklukannya masing-masing. Dan, setiap cerita punya keunikannya masing-masing. Itu ceritaku, mana ceritamu?

—esn—

Sabtu, 15 Oktober 2016

Jilbab Pertamaku: Tanda Baktiku Untuk Abah

Ini adalah sebuah cerita tentang jilbab syar'i pertama saya.

Saya ingat hari itu sabtu di akhir perkuliahan semester pertama. Ya, sebentar lagi saya akan genap satu semester menyandang status sebagai mahasiswa. Bangga? Ya. Bahagia, mungkin begitu lebih tepatnya, karena saat itu saya tahu bahwa masih banyak teman-teman saya yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan tinggi. Saya sangat bersyukur sekali bisa sampai di sini. Terlebih waktu itu saya juga tidak harus bersusah-susah untuk dapat masuk ke perguruan tinggi negeri seperti rekan-rekan saya yang lainnya, saya masuk lewat jalur PMDK a.k.a SNMPTN Undangan. Alhamdulillaah.

Tidak seperti biasanya, akhir pekan itu saya tidak pergi kemana-mana. Saya berdiam diri di kosan, beres-beres sambil menunggu seseorang datang. Di kemudian hari, orang ini akan menjadi orang yang berjasa karena telah mau bersusah payah menuntun dan memapah saya ke jalan ini padahal dia bisa saja berlari dan meninggalkan saya sendiri. Jalan yang saya pilih ketika kuliah adalah jalan yang katanya penuh onak dan duri dan peminatnya sedikit sekali. Ah, saya tidak mau ambil peduli, saya sudah kadung jatuh cinta, saya sudah bulat memilih untuk berada di jalan ini. In syaa Allaah.

Mari kita sebut ia Matahari. Ya, selayaknya matahari ia tidak pernah berhenti menyinari bumi, kalaupun ia harus terbenam ia hanya terbenam untuk terbit dan menyinari sisi bumi yang lain. Pun, dengan teman saya si Matahari ini. Ia selalu menyinari dengan pengetahuan yang sebenarnya sayapun sudah tahu, hanya saja selama ini saya seolah tidak mau tahu. Dengan sabar ia terus menunjukkan kepada saya bagaimana menerapkan pengetahuan itu dalam perihidup keseharianku. Pengetahuan yang saya maksudkan di sini adalah ini: "... hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka... (Al-Ahzaab:59)". Betul, mengenai perintah untuk berjilbab yang sesuai dengan syariat-Nya. Dan, betul, waktu itu saya baru sebatas tahu akan keharusan menutup aurat secara sempurna sebagaimana yang diajarkan oleh ustadz dalam ceramahnya (yang seringnya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. hihi) juga kata guru agama di sekolah saya dulu. Berbeda dengan temanku si Matahari itu, selain ia tahu ia pun melaksanakannya juga, konon katanya semenjak ia sekolah menengah pertama ia telah berjilbab sesuai syariat-Nya. Luar biasa!

Menunggu bagi saya adalah hal yang membosankan, ya, sama seperti yang dirasakan orang-orang kebanyakan. Pagi itu saya hampir saja ketiduran. Jika saja dalam hitungan lima menit ia tak juga datang, mungkin saya tidak akan seperti sekarang. Wallahu'alam. Untungnya, sebelum saya benar-benar tertidur, saya mendengar seseorang mengetuk pintu kosan saya. Seseorang yang saya tunggu. Ya, si Matahari itu, akhirnya ia tiba juga. Ia adalah seorang plegmatis-sanguinis dan senyumnya, tentu saja manis. Dengan senyum yang telah terpasang manis di wajahnya ia mengucapkan salam dan dengan tanpa dosa sama sekali, dengan leluasa ia memasuki daerah kekuasaanku. Tak tahu kah kau telah membuatku lama menunggu? Batinku. Dan, seperti biasa, dia mulai menyalakan laptop-nya kemudian memutar lagu-lagu haraki kesukaannya: "Aaa... Ini langkahku... aaaa... terus melaju... Ini langkahku yang kan kuayun... Walaupun payah tak akan jera..." Karena sebenarnya agenda kami waktu itu adalah mengerjakan tugas UAS, jadi biar tambah semangat mengerjakannya ceritanya.

Namun, entah bagaimana cerita detailnya hari itu agenda kebersamaan kami berubah begitu saja. Setelah melihat tugas UAS yang .... ah sudahlah. Kami merasa bosan, apalagi waktu itu masih banyak yang harus kami selesaikan. Akhirnya, kami terlibat perbincangan yang menurut saya seru, ya, obrolan ringan selalu menghadirkan keseruan. Obrolan kami kala itu adalah tentang akang teteh pengurus organisasi di mesjid yang kinyis-kinyis dan lembut-lembut itu. Astagfirullaah, ampuni kami ya Allaah. Semoga tidak termasuk ghibah karena niat kami mencari ibrah. Hingga sampai pada saya berkata: "aku seneng ih liat si teteh itu, adem gitu, tapi kerudungnya itu keleber-keleber gitu apa nggak gerah ya?"

alih-alih menimpali si Matahari cuma ketawa khas-nya yang tidak bisa saya tirukan di sini. "Ya udah kamu coba aja beb!" Katanya kemudian.

"Haha. Kamu mah bisa wae bercandanya!" Jawab saya sekenanya.

"Ih, beneran ini mah. Serius." Katanya lagi.

"Haha. Mending aku dong, duarius!" Yang diam-diam mulai penasaran. "Lagian mana bisa, kerudungnya aku pendek-pendek semua mereun.." lanjut saya.

"Bisa, Bisa. Didouble aja." Katanya mantap.

Entah, bagaimana, perlahan tapi pasti kami mulai menuji tempat penyimpanan kerudung-kerudung itu. Ah, mungkin di sana ada hidayah Allaah mungkin ya <3



Akhirnya kami mengambil beberapa kerudung tipis a.k.a paris yang terdapat di gantungan khusus kerudung tersebut dan kami mulai memadu-padankan mana yang sekiranya cocok untuk dijadikan dalaman dan luaran. Kalau tidak salah ingat, waktu itu kerudung warna peach dijadikan luaran dan kerudung warna cokelat susu yang agak tebal dijadikan dalaman. Setelah dipadankan dan dirapihkan sempurna sehingga tidak terlihat dua, jilbab itu dipasangkan pada kepala-wajah saya, saya dibantunya untuk menancapkan jarum dan dirapihkan bagian belakangnya. Setelah dirasa rapi, ia meminta saya untuk berkaca. Dalam kaca, saya melihat sesosok perempuan yang berbeda, jilbab membalut tubuhnya dengan sempurna. Aku terpana.

"Bagus beb, cantik!" Komentarnya.

Dan, entah, ada perasaan nyaman yang menyeruak dalam dada. Semacam merasa aman dan terjaga. Oh, beginikah rasanya? Inikah indahnya hidayah? Oh, ya Allaah saya belum siap. Saat itu saya masih merasa belum pantas. Tapi saya berpikir sambil terua berkaca diri, kalau bukan sekarang kapan lagi? Kalau dinanti-nanti, nanti bisa jadi keburu mati. Naudzubillaah. Semenjak itu, saya mulai mencoba menata hati, meyakinkan diri sendiri, meniatkan dalam hati untuk mulai berjilbab rapi. Menjemput hidayah-Nya, menjemput ridho-Nya. Dan, mencoba berbakti kepada orang tua dengan cara yang berbeda. Ya, saya ingin membaktikan diri untuk kedua orang tua karena sampai sebesar itu saya belum bisa memberikan apa-apa pada mereka. Hiks.

Saya ingat, mentor saya pernah bilang salah satu cara berbakti dan membahagiakan orang tua adalah dengan berjilbab sesuai syariat.
Kemudian teman mentoring saya waktu itu ada yang menyela, ia belum siap, katanya, ia mau terlebih dahulu menjilbabi hatinya dengan rapi.
Sambil tersenyum mentor saya bilang, menjilbabi diri dan menjilbabi hati itu bukan hal yang berurutan, keduanya perlu dilaksanakan.
Menjilbabi diri secara syar'i adalah keharusan, kepatuhan setiap muslimah terhadap apa yang diperintahkan Tuhan dan menjilbabi hati tidak bisa instan, ia akan terus berproses seiring zaman, kalau mau terus nunggu sampai hatinya 'terjilbabi', apa ada garansi saat itu kita masih ada di dunia ini? Sementara itu, dosa-dosa kita terus bertambah dari hari ke hari karena kelalaian kita dalam menutup aurat yang tidak sesuai syariat. Dosa yang sama yang juga menjadi tabungan dosa ayah dan ibu kita karena kita sebagai anak perempuannya, masih dalam tanggung jawabnya.

"Apa iya, mau terus begitu?" Pertanyaan retoris mentorku.

"Kenapa tidak menjilbabi diri sembari terus menjilbabi hati? Bukankah itu lebih bijaksana?" Pungkasnya dengan senyum yang membuatnya semakin anggun.

Ah, mengingat kata-kata itu saya menjadi semakin bersemangat. Tekad saya sudah membulat. Saya mau berjilbab syar'i, sesuai syariat-Nya. Saya mau berbakti pada Abah yang selama ini berpeluh lelah agar mampu membiayai aku sekolah.

Akan ada seribu jalan bagi orang yang punya keinginan. Dan akan ada seribu alasan bagi orang yang tak berkeinginan.

Semoga Sederhana.

˙˙˙
Melalui tulisan ini saya ingin sekali berterima kasih pada semua pihak yang berjasa menjadikan saya seperti sekarang ini: orang tua saya, guru-guru saya, mentor-mentor saya, teman-sahabat saya dan tentu saja kamu, Matahariku. Uhibbukum fillaah! <3

—esn—