Tampilkan postingan dengan label Curahan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curahan hati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2016

Hasil Test Pack Samar: Positif atau Negatif?

Well, pertama-tama saya mau mengucapkan selamat hari blogger nasional. Yeah! Ternyata eh ternyata blogger punya hari raya nasional-nya juga ya, saya juga baru tahu sebetulnya kalau tanggal 27 Oktober ini diperingati sebagai hari blogger nasional. Wah, di hari blogger yang berbahagia ini, saya tidak mau ketinggalan, saya harus membuat tulisan *sambil ngencengin iket kepala* padahal sedang malas-malasnya. Hmmmm. Saya punya harapan, harapan saya di hari blogger ini adalah saya ingin menjadi blogger pro, semoga, ya, someday, in syaa Allaah! Ya, meskipun baru rajin merawat blog kemarin sore *hehe* saya tetap berharap agar blog saya ini bisa terus bertumbuh, bertambah dan berkembang melebihi usia perkembangannya. Iya, ini blog saya, hasil perasan pertama pikiran dan perasaan yang saya besarkan seperti anak saya sendiri *hadeuh, korban iklan* #ifyouknowwhatimean :D
Do'akan saya agar istiqamah menulis dan nge-blog-nya, ya! :)

Baiklah, karena tulisan kali ini bukan akan membahas mengenai hari raya blog yang saya sendiri belum mencari tahu bagaimana asal usulnya dan saya bingung juga sebetulnya mau menulis apa *hehe* maka, mari kita kembali ke judul yang sudah kadung saya tuliskan, yakni mengenai Hasil Test Pack yang Samar. Ya, tulisan ini memang sangat spesifik sekali, peruntukannya bagi ca-mahmudah a.k.a calon mamah muda nan shalihah (Aamiin) memang sangat kentara sekali. Tapi, bukan berarti di luar mereka tidak boleh membaca, ya. Semua orang boleh saja membaca—kalau mau dan perlu, terutama calon bapak-bapaknya, membaca tulisan ini sangat disarankan, sehingga punya pengetahuan juga soal yang beginian. 

hasil testpack yang (sangat) samar. kelihatan tidak garisnya?

Yap! TEST PACK a.k.a alat uji kehamilan untuk digunakan di rumah. Karena memang untuk pemakaian rumahan, cara kerja alat ini sangat mudah sebetulnya, keterangan mengenai bagaimana cara penggunaannya sudah sangat jelas juga dalam keterangan di kemasannya, pun dengan cara membaca hasilnya:

SATU GARIS = NEGATIF. Artinya kita harus lebih giat untuk berikhtiar lagi, in syaa Allaah, hasil tidak akan mengkhianati usaha koq, hanya memang belum sampai pada waktunya saja, tetap semangat ya. Jangan berkecewa! :)

DUA GARIS = POSITIF. Artinya kita harus berikhtiar untuk dapat menjaga 'sesuatu' yang sedang bertumbuh-kembang di dalam rahim kita itu dengan sebaik-baiknya, ya. Ikut berbahagia! :)

Nah, kalau HASIL TEST PACK YANG SAMAR gimana?

Eh, itu gimana maksudnya?

Memangnya ada yang hasilnya seperti itu?

Begini, jadi hasilnya itu sukar terbaca, mau dibilang garisnya hanya satu, terlihat ada dua garisnya. Mau bilang garisnya ada dua, tidak begitu terlihat juga garisnya. Membingungkan, bukan?

Iya, ternyata hasil seperti itu ada. Dan saya sendiri pernah merasakannya. Hasil uji kehamilan yang saya lakukan suatu ketika memperlihatkan hasil yang samar, seperti yang saya tampilkan dalam gambar.

Mendapatkan hasil yang seperti itu, saya merasa bingung sekali. Di satu sisi, tidak dapat dipungkiri, seperti ada bunga-bunga yang bertebaran di sekitar tubuh saya, senyum saya merekah bahagia: Alhamdulillah, garisnya dua, bathin saya. Di sisi lain, tanda tanya yang tidak kalah banyaknya juga bertebaran dimana-mana, wait, sebetulnya ada satu atau dua, ya, garisnya? Hmmm. Apakah kamu pernah merasakannya juga?

Ditengah kebingungan itu, tetiba handphone saya menyala, ada chat masuk di whatsapp, dari guru ngaji saya, ternyata. Beliau juga seorang bidan. Qadarullaah, dalam chat itu beliau menanyakan mengenai kehamilan juga. Ya, beliau mengetahui persis riwayat kehamilan saya sebelumnya juga, ceritanya bisa dibaca DI SINI. Masyaa Allaah, saat itu saya berpikir betapa Allaah Maha Romantis, selalu mengetahui apa yang sedang dibutuhkan hamba-Nya. Mendatangkan pertolongan-Nya dari arah yang tidak terduga. Ya, saat itu saya membutuhkan pertolongan, saya membutuhkan pencerahan. Akhirnya saya ceritakan kepada beliau mengenai hasil uji kehamilan saya yang samar tersebut.

Dari hasil berdiskusi dengan beliau dan hasil baca membaca juga, berikut adalah penyebab dan hal-hal yang dapat kita lakukan ketika mendapati hasil uji kehamilan yang samar. Check it out!

Pertama, membaca hasil tes terlalu lama. Waktu yang tepat untuk melihat dan membaca hasil tes adalah 1-3 menit setelah stik tersebut bersentuhan dengan urine dan diletakkan dalam kondisi datar. Jangan membaca hasil tes lebih dari 8-10 menit setelahnya karena hasilnya sudah tidak akurat lagi. Urine yang menggenang terlalu lama di stik membuat seluruh stik basah dan memungkinkan untuk memunculkan garis samar tersebut.

Untuk kasus saya, saya sendiri lupa dalam menit ke berapa persisnya saya membaca hasil tes tersebut, hanya seingat saya, saya melihat kembali hasil tes tersebut setelah saya membuangnya karena 'merasa' melihat ada dua garis setelah sebelumnya saya hanya melihat satu garis. Dan, ya, hasilnya saya melihat satu garis cerah dan satu garis yang sangat samar.

Kedua, lakukan tes ulang. Untuk mengetahui hasil yang sesungguhnya dapat dilakukan pengujian ulang. Tes ulang disarankan untuk dilakukan dalam waktu 3-7 hari kemudian. Kecuali apabila 'tamu bulanan' datang duluan, tes ulang tidak perlu lagi untuk dilakukan.

Waktu itu saya melakukan tes kehamilan bukan dalam keadaan 'sudah telat', tetapi H-1 sebelum biasanya 'tamu bulanan' datang. Bukan memakai urine pertama di pagi hari juga, karena saya hanya iseng-iseng saja. Hehe. Kebetulan beberapa hari terakhir saya selalu pusing yang 'melayang', setiap pergantian posisi dari duduk ke berdiri saya merasa pusing sekali. Teringat punya testpack, yasudah lah daripada di-anggur-in mending di-apel-in, kan? Hehe.

Ketiga, ganti alat tes. Begitu banyak merek dan jenis alat tes kehamilan. Mulai dari stik tunggal, stik bersama wadah penampung, yang compact hingga yang menggunakan semacam pipet tetes. Dari yang harganya ribuan hingga harganya puluhan ribu. Tinggal dipilih sesuai dengan kemampuan, namun diusahakan harus lebih bagus dari yang sebelumnya digunakan.

Alat tes yang saya gunakan waktu itu merupakan alat tes seharga (((lima ribuan))) yang saya iseng beli di apotik karena baru tahu ternyata ada yang harganya semurah itu dan saya penasaran bentuknya seperti apa. Hal ini tersadarkan oleh pak suami, saya baru ingat harga dari testpack tersebut ketika suami menanyakannya, dan kemudian saya hanya bisa tertawa geli sendiri ketika beliau bilang: "buat anak koq coba-coba, masa murah." Hehe. Namanya juga emak-emak, ya, niat hati mah: hemat beb! Sampai pada hasil itu, saya mengamini bahwa: ya, ada harga ada kualitas.

Keempat, segera periksa diri ke dokter. Apabila sudah melakukan tes ulang, kemudian mendapati hasil tes negatif tetapi sudah berlalu lama si 'tamu bulanan' tidak juga datang. Atau, ketika mendapati hasil positif tetapi si 'tamu bulanan' tetap datang. Apabila mendapati hasil yang seperti itu, bisa jadi ada yang tidak beres dalam diri kita. Maka, segera perikasakan diri ke dokter, ya! Tapi, mudah-mudahan kita semua terhindar dari segala penyakit, ya. Tenang saja, la yu kallifu nafsan illa wus'aha — Allaah tidak akan membebani makhluk-Nya di luar batas kesanggupannya (Al-Qur'an).

So, untuk memastikan hasil positif atau negatif dari hasil testpack samar tersebut, setidaknya dapat dipastikan setelah pengujian ulang dilakukan. Tetapi, katanya, biasanya, kebanyakan, yang hasilnya seperti itu tuh, biasanya, memang positif namun masih terlalu sangat muda usia kehamilannya sehingga masih sangat sedikit kadar Hcg dalam urine-nya. Uhuk.

Wallahu'alam Bishawab.

Sudah itu saja.

Mungkin hanya itu yang dapat saya bagikan.

Semoga bermanfaat.


Salam Hangat,
—esn—

Jumat, 21 Oktober 2016

Mencintai Kehilangan #2

Ada yang selalu aku nantikan, kehadiran.
Ada yang selalu aku takutkan, kehilangan.
Tapi aku tidak mau hilang ingatan,
bahwa semua telah digariskan.

...

Ini merupakan cerita lanjutan, baca terlebih dahulu cerita sebelumnya di sini ya! :)

Hari itu Sabtu, tiga hari berselang selepas kita semua bersama-sama merayakan hari kemerdekaan negara kita tercinta: Indonesia. Saat itu, sependek perhitungan yang saya lakukan usia kehamilan saya sudah akan memasuki periode akhir trimester pertama. Sementara usia janin bisa jadi berselisih sekitar satu sampai tiga minggu kurang dari usia kandungan.

ilustrasi dari app pregnancy+ per tanggal 18 Agustus 2016

Singkat cerita, sabtu itu kami (saya dan suami) ikut gerak jalan santai yang diadakan dalam rangka memeriahkan HUT RI Ke-71. Ya, Mengingat kehamilan saya yang tidak memiliki keluhan apa-apa dan kegiatannya ringan juga, kami ikut dalam kegiatan tersebut. Kegiatan pun berjalan dengan lancar. Setelahnya, semua masih tetap baik-baik saja, saya sehat-sehat saja, saya tidak merasakan pegal atau apa pun, karena memang kami pulang duluan dan tidak mengikuti semua rute jalan juga sih. Hehe.

Hingga sore itu...

Tiba-tiba, tanpa didahului rasa sakit, kram, kontraksi atau apa pun itu, ada —maaf— darah segar yang keluar. Saya mengalami pendarahan ringan. Iya, pendarahan, bukan flek, meski waktu sore itu hanya satu sampai dua tetes.

Karena suami sedang di luar rumah. Segera saya chat suami agar setelah acara selesai langsung pulang untuk mengantar saya memeriksakan diri ke bidan. Tapi memang dasar suami saya (suka gagal romantis) humoris, beliau malah balas chat saya dan bilang nanti saja pulangnya sekalian ba'da isya, menyuruh saya untuk sabar menunggu, padahal, ternyata, ketika beliau mengirim chat itu orangnya sudah ada di depan pintu. Ckck.

Sesampainya di rumah saya sampaikan terkait pendarahan tersebut dan minta antar ke bidan. Suami langsung kaget dan panik, padahal itu sama sekali bukan karakternya. Lalu, keluarga segera menghubungi bidan. Alhamdulillah, setelah dihubungi, bidan segera datang ke rumah saya untuk memeriksa keadaan saya. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tekanan darah saya normal. Hanya saja, karena usia kandungan yang relatif masih muda, detak jantung janin belum terdeteksi (ditambah lagi alatnya yang agak sedikit rusak sehingga hanya terdengar gresek-gresek gitu --"). Bu bidan menyarankan saya untuk bedrest dan segera memeriksakan diri ke DSpOG.

Besoknya, setelah dibuatkan janji oleh bidan, saya memeriksakan diri ke Klinik tempat praktik DSpOG tersebut, ketepatan tempatnya tidak jauh dari rumah. Pagi itu, ternyata sudah cukup banyak pasien yang hendak memeriksakan diri. Tetesan darah yang keluarpun masih terasa sesekali. Setelah menunggu antrian yang cukup lama, saya ditemani suami masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, saat itu saya berada di titik pasrah-sementara: apapun yang terjadi, terjadilah...


Ibu dokter kemudian memeriksa kandungan saya, saya berbaring untuk melakukan pemeriksaan melalui USG. Dari hasil USG tersebut dokter menyatakan bahwa usia janin sekitar 9-10 minggu tetapi kandungan saya tidak dapat dipertahankan. Ibu dokter menerangkan perkembangan janin sesuai dengan usianya dengan bahasa kedokteran yang masih dapat kami mengerti kemudian dikomparasikan dengan kondisi janin kami, hingga akhirnya dokter bilang: "singkatnya mahjanin dalam kandungan Ibu teh, sudah meninggal dalam usia 7-8 minggu dan harus segera dibersihkan.."

Innalillaahi wa innailaihi rajiuun...

hasil USG —pertemuan terakhir kita— tanggal 21 Agustus 2016

Saat itu, dokter tidak dapat memastikan penyebab keguguran yang saya alami. Faktor penyebab keguguran itu cukup banyak dan tidak dapat digeneralisasi. Apalagi ini merupakan kehamilan pertama, sulit untuk memastikannya. Suami saya lebih tanggap, suami lantas bertanya, mengenai cara 'pembersihan'nya. Dokter mengatakan bahwa dengan usia kandungan saya yang saat itu 3 bulan lebih beberapa hari, maka sudah tidak bisa dibersihkan dengan memakai obat peluruh dan saya harus menjalani kuretase. Pilihan yang diberikan saat itu hanya kuretase tidak ada pilihan lain. Hanya saja, waktunya bisa saat itu juga di Klinik tersebut dengan terlebih dahulu diinformasikan mengenai biaya administrasi yang harus disediakan atau dapat dilakukan besok-besoknya di RSUD Majalengka atau Kuningan, diberi rujukan.

Saat itu belum ada keputusan dan kami memilih pulang untuk bermusyawarah dengan keluarga. Dalam perjalanan pulang, saya mulai gamang, rupanya otak saya mulai menyadari mengenai hal tersebut. Kehilangan. Sesuatu yang saya cintai, sesuatu yang selama lebih dari tiga bulan bersemayam dalam rahim saya akan segera hilang, akan kembali berpulang.
Akhirnya kami memutuskan agar tindakan tersebut dilakukan hari itu juga. Ditemani suami, mamah dan kakak saya berangkat kembali ke Klinik. Jika dapat dibilang operasi, maka itu adalah operasi pertama yang saya alami sepanjang hidup saya (dan saya tidak mau mengalaminya lagi!). Sesampainya di klinik, saya diberikan obat serbuk dengan cara ditaruh di bawah lidah saya kemudian membiarkannya luruh tanpa boleh dibantu dengan air minum sedikitpun. Rasanya? Tentu saja pahit. Sepahit kenyataan hari itu...

Saya lalu disuruh puasa, dalam artian tidak boleh makan dan minum sampai selesainya proses kuretase. Sesaat setelah itu, obat tersebut rupanya mulai menunjukkan reaksinya, saya mulai merasakan sakit perut yang amat sangat tidak nyaman, dan tidak lama mulailah pendarahan yang cukup deras. Saat itu, saya belum masuk ke ruangan operasi, sehingga masih bisa sandaran pada suami. Saya bersyukur, kejadian itu berlangsung ketika suami berada di sisi, sehingga saya tidak merasa berjuang sendiri. Kembali kita #BerjuangBersama. Tidak berselang lama, saya diminta untuk masuk ke ruangan. Sendirian.

Saat itu, sungguh, saya tidak merasakan ketakutan, mungkin otak dan tubuh saya sudah mulai memasuki fase penerimaan. Perlahan mulai menerima akan takdir yang telah Tuhan gariskan. Saya ingat, perawat meminta saya berbaring, menyelimuti saya, kemudian dokter datang membawa suntikan dan meminta saya untuk tidur. Setelah itu, saya tidak ingat lagi. Rupanya suntikan itu merupakan anestesi dan saya dibius total.

Sekitar satu jam kemudian —katanya—kuretase selesai, saya mulai sadar tidak sadar. Ah, rupanya efek obat biusnya belum sirna sempurna. Setelah agak sadar saya diperbolehkan untuk istirahat diruang perawatan yang lebih nyaman, berpindah dari ruang tindakan. Tak berselang lama, kesadaran saya muncul sepenuhnya. Saya melihat suami saya membawa barang belanjaan berupa keperluan pasca 'melahirkan' dan juga makanan kesukaan saya. Setelah mengambil obat dan semuanya beres, Alhamdulillah, hari itu juga saya diperkenankan pulang, setelah kamu terlebih dahulu pulang.








Sesampai di rumah, setelah sedikit berbincang saya kembali tertidur dan terbangun ketika banyak tetangga berdatangan. Ya, kekeluargaan antar tetangga di sini sangat baik, apabila di antara tetangga yang terkena musibah/sakit/kecelakaan mereka akan menyempatkan diri untuk menjenguk dan turut berduka cita. Kedatangan mereka cukup membuat saya haru dan dari mereka saya banyak mendapatkan pelipur lara, berupa kata-kata motivasi dan nasihat yang mengingatkan saya pada kekuasaan Tuhan, Allaah SWT.

Sore hari itu, tanpa terasa ada yang mulai mengalir kala saya mendengar suami melafal Q.S. Yasin selepas shalat Asharnya. Bukan, In syaa Allaah bukan saya meratapi, airmata itu keluar begitu saja, di luar kendali. Mungkin waktu itu saya masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi. Ya, rupanya, saya masih butuh cukup waktu untuk kembali memenuhi ruangan yang terasa kosong tanpa pernah betul-betul terisi itu untuk menjadi utuh kembali. Saya pun mentoleransi sekaligus mengingatkan diri: boleh mengekspresikan duka tapi jangan berlama-lama.

Puncaknya, sekitar malam ketiga pasca tindakan, tetiba saya menangis tanpa tahu sebabnya. Entahlah, rasanya ada desakan di dalam dada yang tak mampu saya ungkapkan kecuali lewat derai demi derai airmata yang menganak sungai di pipi saya. Ia mengalir dengan derasnya, tanpa bisa lagi saya membendungnya. Saya menumpahkan segala, sambil saya bersandar pada pundak kokohnya yang terasa bergetar. Ah, rupanya ia pun ikut menangis dengan tertahan. Mungkin, sebagaimanapun ia juga merasakan kepedihan yang mendalam yang sama, bedanya ia harus tetap terlihat tegar, karena ia sepenuhnya menyadari bahwa di sisinya ada istri yang harus dikuatkannya.

Kemudian, suami saya mulai bercerita tentang ia yang 'terpaksa' menjadi anak pertama setelah kakaknya meninggal dalam usia 12 jam setelah ia terlahir ke dunia. Kemudian beliau mengajak saya #mengajirasa perasaan ibunya saat itu, mengajak saya bersyukur untuk peristiwa pedih yang kami alami yang setidaknya tidak sepedih yang dialami ibu mertua dan juga bercerita serta memberi nasihat yang syarat hikmah yang lain. Hangat, perlahan rasa itu menjalari jiwa dan raga saya. Untaian cerita dan nasihatnya berhasil masuk sampai alam bawah sadar saya. Dan rupanya mekanisme penerimaan dalam diri saya mulai berjalan dengan sempurna, setelah sebelumnya terhunyung-hunyut, jatuh dan bangun. Malam itu, saya sudah dapat menerima. Tuntas. In syaa Allaah, dengan penerimaan yang ikhlas. Melepas kehilangan dengan cinta, mencintai kehilangan karena-Nya.

"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan bertambah. Dan segala sesuatu ada pada sisi-Nya dan ada ukurannya." (Q.S. Ar-Ra'du : 8)

Kini, semua telah berlalu. Tulisan ini hanya sebagai perekam waktu. Juga, sebagai sumber jawaban, ya, mana tahu ada lagi yang bertanya: "Koq bisa? Gimana ceritanya?" saat baru mengetahui kalau saya pernah keguguran. Jadi, tinggal saya arahkan ke sini saja, deh. Hehe.

Akhirnya, Alhamdulillaah wa Syukurillaah. Meskipun belum dipercaya-Nya hingga dapat menggenggam, merawat, mendidik dan membesarkannya dengan penuh cinta. Kami tetap berbahagia, setidaknya kami pernah dipercaya untuk merasakan menjadi orang tua meski dalam kurun waktu sekitar tiga bulan saja. Secara tidak langsung, kami pun merasa diberitahu-Nya bahwa In syaa Allaah kami akan berketurunan hanya saja belum sampai pada waktu tepatnya. Kami hanya perlu bersabar sedikit lagi saja. In syaa Allaah.

...

Seperti kehadiranmu yang tiada terduga, kepergianmu pun tiada beda.
Namun bagiku, keduanya bernilai sama, sama-sama: berbunga cinta, berbuah pahala dari Syukur dan Sabar atas segala ketentuan-Nya. In syaa Allaah..


—esn—

Mencintai Kehilangan #1

Bagaimana mungkin aku bisa begitu mencintai sesuatu yang belum aku miliki, sesuatu yang tidak pernah aku tahu sama sekali?


...


Awal Ramadhan 1437H yang lalu, saya mendapati diri saya menjadi lebih mudah lelah dan merasakan kram yang luar biasa di perut kiri bagian bawah, sanking sakitnya saya sampai berderai-derai airmata padahal lagi puasa, setelah tidak bisa lagi menahan dan dengan dipaksa pak suami (ah, iya, saya sudah menikah, sudah memiliki suami dan tentu saja belum pernah saya ceritakan di blog ini --") saya akhirnya memeriksakan diri ke dokter yang direkomendasikan pak suami sendiri. Singkat kata, menurut dokter tersebut Maag saya kambuh tapi dokter-pun menanyakan apakah tamu bulanan sudah datang? Waktu itu belum, dan, ya, setelah berhitung ternyata sudah telat sehari. Sepanjang perjalanan pulang saya berpikir, mungkinkah saya hamil? Atau hanya PMS saja?

Minum obat adalah hal yang tidak saya sukai, alhasil obat-obatan yang diresepkan dokter tempo hari tidak saya sentuh sama sekali. Hehe. Selain karena memang saya tidak suka, sakit yang saya rasakan pun tidak sedahsyat kemarin dan satu lagi, si tamu bulanan pun tak kunjung datang, sehingga ada kekhawatiran dalam diri ini, khawatir memang Allaah memberikan rezeki kepada kami dan sepanjang yang saya tahu tidak disarankan untuk mengkonsumsi obat-obatan dalam kondisi tersebut.

Setelah 'telat' lima hari (kalau tidak salah ingat), saya mencoba menggunakan alat tes kehamilan yang telah dibelikan pak suami. Ternyata, cukup bikin deg-deg-an juga, ya. Beberapa saat saya tidak melihat apa-apa, saya pikir error, hingga saya baca lagi cara pemakaiannya. Oh, harus ditunggu 1-3 menit. Saya simpan dulu. Beberapa saat kemudian saya lihat lagi, Masyaa Allaah, STRIP DUA. Alhamdulillaah wa syukurillaah, dalam usia pernikahan kami yang belum genap 5 bulan, Allaah menitipkan rezeki yang luar biasa pada kami. #AnugerahRamadhan1437H

penampakan hasil testpack 27.06.2016

Setelahnya, saya menjadi 'budak googling'. Hehe. Saya yang saat itu tinggal di Pare, Kediri, Jawa Timur, jauh dari keluarga dan teman-teman yang kebanyakan di Jawa Barat menjadi kesulitan untuk sharing, sehingga googling adalah hal yang saya andalkan untuk mengetahui lebih jauh mengenai kehamilan. Saya menjadi orang yang rajin sekali googling dengan kata kunci "ciri-ciri kehamilan", "hamil muda", "kehamilan trimester pertama". Berbeda dengan apa yang saya baca, saya tidak merasakan apa yang kebanyakan ibu hamil muda rasakan. Tidak ada perubahan yang signifikan. Saya masih bisa menjalankan aktivitas seperti biasanya. Hanya menjadi sedikit malas, mudah lelah dan merasa mual setiap setiap kali sehabis sikat gigi.

Kehamilan saya cukup menyenangkan. Tidak banyak rintangan dan ujian yang menghadang. Bahkan saya dapat menyelenggarakan syukuran pernikahan saya yang diselenggarakan pasca lebaran. Dan Alhamdulillaah, sampai saat itu semua baik-baik saja. Perlahan tapi pasti, saya mulai mencintai 'sesuatu' yang ada di dalam perut saya. Mencintai sesuatu yang belum pernah saya lihat. Mencintai sesuatu yang berbeda, yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Sampai titik itu, saya mulai mengerti arti cinta orang tua kepada anaknya. Perasaan yang luar biasa hebatnya, perasaan yang selalu mengutamakan, menginginkan mengusahakan yang terbaik bagi buah hatinya. Masya Allaah, begini toh rasanya.

Alhamdulillaah, Saya sangat bersyukur sekali atas perasaan ini.


penampakan hasil USG 21.07.16

21 Juli 2016 adalah pertama kali saya melihatnya, eh, tepatnya melihat kantung yang sedang bertumbuh di dalam rahim saya. Usia kehamilan yang masih muda membuatnya belum terindera. Masya Allaah. Semakin bertambah-tambahlah perasaan ini. Semakin hati-hatilah saya menjaganya. Semakin bersemangat melakukan hal-hal terbaik untuknya. Dan, tentu saja, semakin ingin bersegera untuk bertemu dengannya. Hehe.

...

Wahai, aku mencintaimu sejak waktu, sejak ketiadaan wujudmu dalam genggamku.. aku mencintaimu sampai waktu, sampai kapan pun itu..


... bersambung ...



UPDATE : PART #2 BISA DIBACA DI SINI

Rabu, 19 Oktober 2016

Menunggu Itu Menyenangkan: Agar Menunggu Tak Sekedar Menghabiskan Waktu

Ehem. Test. Test. Satu. Dua. Tiga. Percobaan.

Okay, Siapa di sini yang sedang menunggu kedatangan sang pangeran impian? Ciyee. Dag dig dug der ya, jeng? Apalagi kalau ingat usia yang semakin hari semakin berkurang jatah hidupnya, ya? Eh, Itu mah saya aja, deng. Hehe. Tapi, iya, saya pernah mengalami masa-masa itu. Dan, kondisi saya itu diperparah dengan keinginan dan niatan saya untuk nikah muda (saja) setelah membaca suatu hadist yang berhasil membuat saya merinding. Duh. Terus, semakin menjadi-menjadi lah saat satu per satu undangan pernikahan mulai berdatangan, saat satu per satu kawan seperjuangan saya mulai menapaki perjuangan barunya dan meninggalkan saya dalam kesendirian. Kadang saya suka membathin gini: ya Allaah bagian saya kapan? Sampai kapan hamba harus menunggu? Huhu #CurcolPoll

Ya, menunggu memang bukan pekerjaan yang menyenangkan tentu saja, saya tahu persis bagaimana rasanya dan semua orang pasti pernah merasakannya. Baik itu menunggu yang remeh temeh seperti menunggu teman untuk bimbingan bersama menghadap dosen tercinta, maupun menunggu yang tidak lagi bisa dibilang remeh temeh seperti menunggu teman hidup untuk menjadi kawan seperjalanan dunia dan akhirat. Uhuk.

Menunggu itu membosankan, kata-kata itu yang sering dilontarkan orang kebanyakan. Tidak dapat dipungkiri, saya sendiri pernah mengalami, bahkan saya pernah sampai di titik jemu dan enggan lagi kalau harus disuruh menunggu. Waktu itu, ingin sekali rasa bilang: aku tuh gak bisa diginiin, adek lelah bang! Tapi gak tahu mau bilang ke siapa. Hehe.

Kalau kamu, pernah sampai seperti itu juga tidak?

Sampai akhirnya saya menemukan cara agar menunggunya saya itu menjadi lebih menyenangkan.

Berawal dari hati saya yang merasa: ini ada yang tidak beres! Waktu itu, rasanya energi dan pikiran saya koq terkuras untuk sesuatu yang 'kurang' produktif ya? Mana ada di luar kendali saya, pula. Menunggu sesuatu, yang saya sendiri pun tidak tahu. Ya, jodoh adalah salah sekian hal yang tidak kita tahu: ia berada di luar kendali kita, baik itu mengenai kapan datangnya ataupun siapa dirinya. Kemudian, akal sehat saya bilang: tidak bisa! Ini tidak bisa dibiarkan. Saya tidak boleh membiarkan waktu saya habis hanya untuk memikirkan dan menunggu sesuatu yang... ah... sudahlah...

Saat itu, saya mulai merenungi. Meraba kembali diri, apa yang sebenarnya saya cari? Mencoba menelusuri ke dasar sanubari hingga akhirnya saya temukan jawaban dan juga sebuah kesadaran. Kesadaran bahwa rupanya saya telah melakukan 'kesalahan' dalam proses 'menunggu' yang saya lakukan. Lantas sayapun mencari pencerahan agar ada sesuatu yang saya peroleh dari kesalahan yang telah saya lakukan. Alhamdulillaah, akhirnya pencerahan dan pelajaran dari kesalahan itu saya dapatkan juga, setelah tujuh purnama saya bertapa. Hehe #Lebay #Maafkan #Becanda. Saya menemukan cara agar menunggu menjadi lebih menyenangkan dan tak hanya sekedar menghabiskan waktu. Tak!

menunggu sesuatu yang entah bagaimana itu


Pencerahan pertama yang saya dapatkan adalah: UBAHLAH PERSPEKTIFMU.

Ya, kesalahan pertama yang saya lakukan waktu itu adalah saya menganggap dan merasa bahwa SAYA SEDANG MENUNGGU. Saya terluput dari berpikir kebalikannya, bahwa SAYA SEDANG DITUNGGU.
Ya, sering kali kita begitu, kan? Kita terlalu sibuk meratapi nasib dengan pikiran dan perasaan bahwa kita sedang menunggu, tidak mencoba berpikir bahwa sesungguhnya kitalah yang sedang ditunggu. Iya, kan? Padahal ya, nyatanya kita memang sedang ditunggu. Ada seseorang di sana yang sedang menunggu kehadiran kita untuk menemani seluruh sisa hidupnya. Acikiciw.

Nah, sesudah itu saya segera mengubah perspektif saya. Melakulan dialog internal dengan seluruh partikel dalam diri saya. And, It's work! Waktu itu saya langsung merasa lebih baik. Ajaib! Dengan mengubah perspektif tersebut mood saya membaik berkali-kali lipat. Ya, saya memang moody orangnya waktu itu. Makanya, dengan mood yang baik itu, hari-hari saya menjadi lebih baik, lebih ceria dan tentunya lebih menyenangkan. Saya mulai bisa berpikir hal-hal positif apa yang bisa saya lakukan. Iya, soalnya sebelumnya saya tidak kepikiran, perspektif menunggu yang kadung ada dalam diri saya waktu itu serupa awan tebal sebelum hujan. Mendung. Kelabu. Merenggut keceriaan saya. Menjadikan hari-hari saya terlihat menyedihkan, kurang menggairahkan. Hmmm, apa kamu juga merasa begitu? Jika iya, cobalah ubah perspektifmu. Sudah saatnya menunjukkan sinarmu, dunia sedang menunggumu. Ya, kamu sedang ditunggu! :)

Nah, untuk pencerahan-pencerahan dan pelajaran yang saya dapatkan dari kesalahan saya itu, saya post dalam postingan selanjutnya ya, agar tidak terlalu kepanjangan dan kamu dapat membaca dengan nyaman.

Semoga sederhana.

˙˙˙
Kamu, iya kamu, terima kasih ya sudah baca :)
Kamu mau tahu tidak kelanjutannya? Kalau mau, tinggalkan jejak di kolom komentar dong *sambil nyodorin pentungan* biar saya semangat gitu nulisnya. Hehe. Lagi manja. Maafkan ya.

—esn—

Senin, 17 Oktober 2016

Goresan Perempuan: Kepada Tuan


gambar diambi dari sini


Kepada tuan.

Kepada tuan, ingin saya sampaikan bahwa saya pernah dan masih.

Saya pernah sangat menunggu kedatangan tuan dan masih akan terus menunggu setiap kedatanganmu.

Saya pernah sangat kecewa saat kau tak jua datang dan masih akan terus kecewa saat saya tak bisa menyambut dengan baik setiap kedatanganmu.

Saya pernah sangat gembira saat kedatangan tuan untuk pertama kalinya dan masih akan terus bergembira dalam setiap kedatangan dan kebersamaan denganmu.


Kepada tuan.

Kepada tuan, ingin saya sampaikan bahwa saya sangat.

Saya sangat berterimakasih atas perjalanan yang telah sejauh ini. Atas segala cerita yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya sangat berterimakasih atas keberanian untuk mengambil alih. Menafkahi saya dengan yang cara halal nan bersih.

Saya sangat berterimakasih atas perlakuan baik dan segala kebaikan-kebaikan yang tak dapat disebutkan satu per satu di sini.


Kepada tuan.

Kepada tuan, ingin saya sampaikan bahwa saya begitu.

Saya begitu mengagumi setiap pemikiran-pemikiran gemilangmu, setiap kesederhanaan sikapmu dan kebesaran jiwamu.

Saya begitu menikmati setiap sajian-sajian perasaan yang engkau beri untukku, setiap hidangan sederhana namun penuh makna.

Saya begitu bersyukur menjadi separuh jiwamu, menjadi istrimu, menjadi teman hidupmu.


Kepada tuan.

Saya ingin sampaikan bahwa perjalanan ini memang tidak akan pernah selalu mudah, tidak akan selamanya indah, namun apapun semoga selalu dan selamanya akan penuh barakah.

Kepada tuan.

Saya ingin sampaikan bahwa jangan pernah, jangan pernah merubah arah, teruslah melangkah, walaupun itu lelah. Jangan pernah berhenti, kecuali kita sudah sampai pada apa yang disebut: mati.

Kepada tuan.

Saya ingin mengingatkan bahwa kehidupan kita di dunia hanyalah sementara, sementara godaan begitu menggila banyaknya. Maka tuan, mohon jangan sampai tergoda, mohon jangan sampai terlena.

Kepada tuan.

Saya ingin mengingatkan bahwa kita sedang dalam perjalanan, perjalanan menuju kepulangan. Kita sedang berjalan untuk memperjuangkan, memperjuangkan mimpi agar kita dapat kembali dalam keadaan berpuas hati. Maka itu tuan, tetaplah berhati-hati.

Kepada tuan.

Kepada tuan, ingin saya sampaikan bahwa saya,

Bahwasannya saya,

Saya,

Mencintaimu.

Ya, saya mencintaimu,

Dengan segenap jiwaku.

Seperti hal perasaanmu padaku.

Dan semoga itu lebih dari cukup sebagai amunisi untuk kita #BerjuangBersama hingga kaki-kaki kita bersama-sama menapaki Syurga-Nya.

Semoga cukup sederhana.

Yours,
—esn—

#longdistancemarriededition #gombalhalal

Minggu, 16 Oktober 2016

Goresan Perempuan: Menunggu Reda

gambar diambil dari google dengan sedikit perubahan

Saat orang-orang memilih berlarian hujan-hujanan sehingga dapat segera sampai tujuan. Aku, memilih duduk, mengambil nafas sambil sesekali menengadah ke angkasa. Menunggu reda.

Menunggu reda. 

Banyak orang yang bilang menunggu itu membosankan. Apalagi ketika dilakukan sendirian. Tapi bagiku, menunggu itu sering juga mengasyikan. 

Banyak yang dapat kita lakukan selama menunggu, kan? Mengamati orang-orang berlaku, misalnya. Atau seperti aku, dengan membuat tulisan.

Ah, aku menjadi teringat akan percakapan singkat dengan seorang kakak tingkat. Percakapan yang pada akhirnya dia menyarankanku untuk mengikhtiarkanmu. Ya, kamu, yang, entahlah, aku sendiripun tak tahu. "Menunggu di rumah dengan memperbanyak do'a adalah ikhtiarnya seorang perempuan" responku kala itu. Dan memang betul begitu. Setidaknya, itulah yang selama ini aku lakukan: Menunggumu.

Menunggumu sama seperti menunggu hujan reda. Perlu percaya bahwa hujan betul-betul akan reda. Perlu percaya bahwa kamu akan betul-betul datang jika telah tepat waktunya. Bahkan, bukan hanya sekedar percaya. Tetapi juga perlu mempercayakan. Mempercayakan semua pada-Nya, Yang maha mengatur segalanya tentang kita. Sampai saat ini aku masih percaya dan akan terus percaya, mempercayakan semua pada-Nya.

Sepenuhnya, akupun menyadari bahwa menunggumu sama seperti menunggu reda. Membutuhkan jeda waktu yang entah berapa lama. Sambil menunggu waktunya tiba, kita bisa bersiap diri. Menyelesaikan urusan dengan diri kita sendiri. Hingga saat kita bertemu nanti, kita sudah sama-sama selesai dengan diri kita masing-masing. Asyik, kan?

Dalam menunggu reda badai bisa saja datang tiba-tiba. Jangan lupa untuk terus berjaga-jaga. Kuatkan pegangan. Jangan sampai hilang pijakan. Tetaplah bertahan hingga badai sirna kemudian berganti reda.

Menunggu reda.

Hujan akan berhenti juga pada akhirnya. Tenanglah, jangan tergesa-gesa. Bersenanglah menikmati seluruh prosesnya. Bersabarlah mengikuti semua alurnya.

Bersiaplah, sebentar lagi hujan akan reda.


Bogor, 11 November 2015
Ditulis dengan sedikit cemas saat takut hujan tak kunjung reda.

˙˙˙
Semoga sederhana.

Semoga dapat dicerna.

—esn—

Goresan Perempuan: Jangan Salah


Jangan salah. Jangan salahkan siapapun ketika ada satu atau bahkan beberapa peristiwa yang terjadi di luar kehendakmu. Alih-alih menemukan solusi malah sibuk ke sana ke mari mencari pihak untuk dipersalahi sampai lupa untuk berkaca diri, berintrospeksi diri. Hati-hati dengan sikap diri.
Jangan salah. Bisa saja apa yang terjadi dalam hidupmu —yang kejadiannya tak pernah kamu inginkan itu— adalah salah satu bentuk cinta-Nya padamu. Perpisahan yang terjadi sebelum pertemuan, misalnya. Mungkin memang tidak mengenakan. Tapi, tahu kah? Mungkin itu adalah bentuk penjagaan-Nya padamu biar kamu tidak merasakan keburukan-keburukan akibat pertemuan tersebut. Bisa saja, kan?
Jangan salah. Kata seorang teman, ada jenis teman yang semakin hari semakin erat memeluk kita, bukan karena takut kehilangan kita, tapi biar pisau itu bisa ia tusukkan tepat di perut kita dan menancap dalam sempurna. Bisa saja. Tapi, jangan salah, sebisanya hindari prasangka karena sebagian besarnya adalah dosa.
Jangan salah. Tidak selamanya yang berjauhan berarti bermusuhan. Ada yang sengaja berusaha menjauh agar segalanya menjadi tetap utuh bukan untuk menjadi musuh. Kita tidak pernah tahu kan seberapa besar energi yang dikeluarkannya untuk menjalani usahanya: memendam perasaan, menjaga jarak agar tetap aman? Bahkan, matahari juga menjaga bumi dari jarak yang jauh, kan?
Jangan salah. Jangan salah sangka. Jangan salahkan siapa-siapa. Jangan. Jangan pernah.
Jangan pernah menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan takdir atas segala yang terjadi padamu.
Jangan salah. Jangan mudah mempersalahkan. Jangan suka mencari-cari kesalahan. Jangan. Jangan pernah.
Jangan pernah mencari kesalahan kecuali untuk diambil darinya sebuah hikmah dan pembelajaran.
Jangan. Jangan salah. Jangan salah arah. Jangan sampai salah langkah.
Hidup kita hanya sekali, setelah itu lalu kita mati. Jangan sekali-kali dibuat tidak berarti.
p.s. jangan lupa besok pilkada, jangan sampai salah pilih, ya! :)
Rumah, 08 Desember 2015
Ditulis saat hari hujan, sedari pagi hingga sore.
˙˙˙
Tulisan saya di penghujung tahun lalu, begitu banyak yang saya pertanyakan waktu itu, hingga terbesit rasa ingin menyalahkan keadaan dan siapa saja yang dapat dipersalahkan. Apa kamu juga pernah merasakan?
Semoga sederhana.
Semoga dapat dicerna.
—esn—